Bab 7 : Hati Yang Tak Tersegel | YuukiNovel

Bab 7 : Hati Yang Tak Tersegel







----Bunyi tembakan yang menusuk telinga dan ledakan yang mengguncang terdengar silih berganti. Jejak kerusakan dan tanda-tanda kehancuran, tumpukan meterial mulai berjatuhan, kehancuran tanpa henti dan pertunjukan lagu pembuka menjadi awal dari akhir yang tidak bisa dihindari.


Markas besar Ratatoskr yang biasanya, sekarang sedang disudutkan oleh kejadian yang membuat putus asa. Biang keroknya, siapa lagi kalau bukan, DEM Industries. Serupa dengan Ratatoskr, mereka melampaui semua pengetahuan manusia, kecerdasan, dan melangkah menuju alam Tuhan. Mereka adalah penguasa unit Realizer.


Tentunya, Ratatoskr tidak bisa membuka pintu permusuhan tanpa persiapan. Tidak berlebihan jika dibilang sistem pertahanan mereka adalah yang terbaik di dunia. Beberapa sistem peringatan secara berkelanjutan menolak keberadaan asing dengan cara membuat penghalang serangan udara untuk menembus unit Realizer. Di atas semua itu, ada kamuflase tidak terlihat yang menyembunyikan lokasi mereka secara menyeluruh.


Taktik pertahanan terbaik untuk benteng yang strategis bukanlah benteng yang tahan dari serangan jangka pendek ataupun memiliki kekuatan hebat yang mampu menghalau serangan dari musuh sekuat apapun mereka. Namun, Elliot Woodman berpikir untuk menjadikannya benteng tersembunyi yang tidak bisa dideteksi oleh musuh.


Ratatoskr adalah organisasi rahasia. Karena tujuannya bukanlah mempertahankan negara, tidak ada keadaan darurat yang menuntut kekuatan mereka untuk menetralkan musuh. Oleh karena itu, operasi utama mereka bukan seperti tuan dari istana feodal yang berlapis emas, bukan juga lambang posisi seperti menteri pertahanan. Sebaliknya, kenyataannya mereka lebih berbahaya dan bisa membimbing mereka menuju kematian.


Lagipula, hanya sebagian kecil anggota Ratatoskr yang tahu dimana markas Ratatoskr. Itupun harus ada ijinnya untuk mengunjungi pesawat itu saat perbaikan sistem pertahanannya. Mengabaikan informasi dari agensi negara, koordinat keberadaan fasilitas raksasa itu tidak mungkin untuk ditemukan.


Dan dalam hal ini, musuh Ratatoskr, DEM Industries bukanlah pengecualian. Bagaimanapun juga, tanpa diduga sebelumnya barikade pertahanan tidak terlihat ini sudah dihancurkan, oleh Demon King sang Maha Tahu [Beelzebub].


“Walaupun aku tidak bisa merebut semuanya kembali, aku tidak menyangka bisa disingkirkan dengan keindahan ini. Tidak aneh jika itu kau, Ike.”


Woodman sedikit mengangkat bahunya saat dia mengeluh.


Dia adalah pria berusia sekitar 50 tahunan yang memiliki rambut berwarna pirang dan putihnya diikat tunggal (ponytail). Meskipun dia menemukan dirinya berada di tempat yang tidak seharusnya, dia menanggapi situasi yang dialaminya dengan santai.


Namun, ini bukanlah hal yang biasa. Woodman adalah komandan tertinggi Ratatoskr, kepala dari meja bundar. Dengan kata lain, dia adalah pimpinan tertinggi organisasi itu. Alhasil, Woodman mengembalikan ketenangan di wajahnya dalam menanggapi keadaan ini. Jika pimpinan kehilangan semangatnya, krisis yang sama akan menjalar sampai anak buahnya dan hasilnya akan mengakibatkan perintah yang tidak bisa dikendalikan. Salah satu keharusannya adalah dia harus terlihat tenang dan memasang senyum tenang sepanjang waktu. Sampai semuanya berlalu, Woodman harus memegang teguh keyakinannya.


Disisi lain, memang benar jika Woodman sudah mengantisipasi saat DEM Industries melakukan penyerbuan. Melihat mantan sekutu Woodman itu sekarang, Isaac Westcott, yang sudah mengetahui segalanya tentang Demon King, bukan hal ysng mustahil jika dia memprediksi pengetahuan yang sangat ingin dia ketahui berada di beberapa Spirit yang sudah tidak tersegel dan di sekelilingnya. Namun, dia sangat menghormati orang yang telah dia hianati itu.


Dengan alasan ini, Woodman memindahkan markasnya yang biasa ia gunakan, dengan menambahkan sistem pertahanan level tertinggi yang semuanya dibuat oleh Ratatoskr.


“---Kau bercanda. Isaac bukanlah orang yang akan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Dia itu, bagaimana ya, seorang anak kecil yang ingin memamerkan mainan baru yang didapatnya kepadamu, teman lamanya.”


Wanita yang berdiri disebelahnya dan berpenampilan orang asli eropa utara dengan rambut pirang yang diikat tanpa selera, berbicara padanya. Mata birunya yang elegan memandang kearah Woodman bagai menembus lensanya.


Karen Matter. Dia adalah sekretaris pribadi Woodman dan juga adik kandung dari Wizard terkuat di dunia, Ellen Matter. Sama seperti Woodman, dulu dia adalah anggota dari staf teknis DEM. Karena itulah, dia bisa membuat evaluasi yang tepat tentang Westcott. Woodman tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menganggkat ujung bibirnya.


“Mungkin memang benar. Ike memang selalu teguh, meskipun dia adalah orang yang sangat berbahaya. Tentang itu. Apa yang akan terjadi jika dia ditempatkan di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan tombol pemicu bom nuklir dengan rasa ingin tahu yang selalu mengganggu pikirannya ?”


“Aku tidak bisa membayangkan seberapa mengerikannya dia. Dia adalah seorang psychopath.”


[*Note : Psychopath : sakit jiwa, suka hal-hal yang kejam. Yandere juga termasuk Psychopath]


Karen memperlihatkan tatapan mengejek saat dia berbicara. Lalu dia menurunkan kepalanya untuk melihat miniatur alat yang ada di tangannya dan mengangkatnya setelah membawa serangkaian berkas operasi dengan tingkat ketrampilan yang tinggi.


“---Rute pelarian sudah dikonfirmasi, lewat sini.”


“Baiklah, bagaimana dengan penanganan datanya ?”


“Tidak ada masalah. Baiklah, jika saja mainan baru Ike mengintipnya, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.”


“Itu tidak masalah. Jadi, ayo berangkat. Keluarkan perintah mundur untuk anggota yang lain juga.”


“Dimengerti.”


Karen mengangguk dengan ringan, lalu segera meraih bagian bawah meja dengan tangannya dan menekan tombol rahasia. Lalu, dinding di belakang meja mulai ditarik masuk, memperlihatkan lift rahasia yang digunakan untuk kabur jika saat darurat.


“Mari.”


Lalu, Karen memasuki lift sambil mendorong kursi rodanya Woodman.


Saat keduanya sudah di dalam, pintunya menutup dengan keras. Setelah Karen menunjuk rangkaian tombol yang ada di panel yang dipasang di dinding, liftnya mulai turun ke bawah, bersamaan dengan suara gir yang samar.


Tidak lama setelah itu, getarannya berhenti, dan pintunya terbuka dengan arah yang berlawanan. Apa yang ada di depan pasangan itu adalah hamparan lorong yang redup dengan beton yang kokoh dan yang memanjang lurus seperti tak berujung.


“Helikopter sudah menunggu disana. Tolong bersabarlah.”


Saat dia berbicara, Karen mulai mendorong kursi roda menuruni lorong yang redup itu.


Tapi--- suasana yang sebelumnya berganti, suara sepatunya Karen dan suara roda dari kursi rodanya menggema menuju 4 sudut seketika menjadi hening.


Alasannya jelas.


Ada siluet sesosok manusia yang datang terlihat di depan mereka.


“---salam, Elliot. Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita bertemu langsung seperti ini.”


Seorang lelaki yang memakai pakaian barat, wajahnya terlihat bosan namun tatapannya terlihat jahat.


“...........”


saat berakting untuk merespon situasi saat ini, pegangan kursi roda itu bergetar sedikit. Bahkan untuk Karen, mempertahankan ketenangan saat berhadapan dengan situasi semacam ini sangat melelahkan. Namun, bisa menahan agar tidak gemetar walaupun hanya sedikit untuk berhadapan dengan orang di depannya, nyali Karen memang patut diberi pujian.


“Penampilan itu....lama tidak bertemu, Ike.”


Woodman memanggil nama orang yang berdiri dihadapan mereka, sambil menyipitkan matanya.


Rambut kuning mudanya yang telah menua terlihat lesu, seperti tertutup cairan logam karena melihat transfigurasi dunia dari waktu ke waktu, bersamaan dengan sepasang mata yang tenang tidak bergerak bagaikan air yang tergenang. Jika semua malapetaka dan seluruh kerusakan yang terjadi di dunia ini berkumpul dan memaksa membentuk seorang manusia, mungkin akan terlihat seperti ini. Meskipun pendapat ini agak berlebihan, pemikiran yang mengganggu ini masih saja muncul di pikirannya. Pernyataan tersirat ini benar-benar cocok dengan pria yang ada di hadapannya.


Penglihatan Woodman yang lemah hanya bisa melihat dengan samar figur seseorang berada dihadapannya itu walaupun ia sudah menggunakan kacamata. Namun, suara misterius dari penampilannya yang gelap dan suasana aneh yang ada disekitarnya mengatakan pada Woodman bahwa ia pernah menjadi teman berharga yang memiliki cita-cita dan berjalan di jalan yang sama dengannya.


“Tidak pernah terpikir olehku jika kau akan pergi sejauh ini untuk menungguku disini. Ada banyak rute pelarian rahasia lainnya yang sudah disiapkan untuk menghadapi situasi diluar dugaan, juga. salah satu kemampuan dari Beelzebub, ya kan ?”


Mendengar pertanyaan Woodman, Westcott sedikit mengangkat bahunya.


“Tidak, tidak, tidak sesingkat itu. Aku menyesal, Beelzebub sudah tercatat menjadi salah satu Spiritmu. Menemukan tempat ini secara kebetulan karena aku menuruti intuisiku. Kurasa aku akan memilih tempat ini jika aku jadi kau.”


“Begitu ya. Kau memang pantas menjadi musuh bebuyutanku, selalu saja ribut.”


Woodman dan Westcott tertawa bersama seperti pikiran mereka terhubung lewat telepati.


“Juga... membicarakan urusanmu. Jika kau ingin membayarku dengan kunjungan, kau harus mengetuk pintu dari teman lamamu ini, sungguh tidak sopan, bukankah kau juga berpikir begitu ?”


“Aah, aku minta maaf. Aku ingin membuat sedikit kesepakatan, jujur saja. Aku berkhayal Karen dan kau kembali lagi ke DEM.”


Wetscott berbicara dengan nada santai. Atau mungkin, dari sudut pandangnya, cara bicara ini adalah normal, bahkan jika itu berarti runtuhnya sebuah organisasi.


Entah keheranan ataupun marah, wajahnya Woodman tetap sama setelah mendengarnya. Lalu ia menaikkan ujung bibirnya.


“Dan apa yang akan kau lakukan jika aku menolaknya secara terang-terangan? Membunuh kami?”


“Tentu tidak, itu bertentangan dengan prinsipku karena Ellen tidak disini. Aku lebih suka menghormati keinginanmu, dan aku tidak ingin menentang harapanmu. Kecuali... jika kau tidak mau, maka sebagai gantinya---“


Westcott mengangkat bahunya, menyipitkan matanya, dan meluruskan tangan kanannya kedepan.


“Beelzebub.”


Dia menyebut namanya dengan santai. Dalam sekejap, pusaran hitam terbentuk di sekitar tangannya, benda itu mendidih mengeluarkan gelembung hitam seperti tinta sebelum akhirnya berubah bentuk menjadi buku.


“---Ayolah, tidak bisakah kau menghiburku sedikit ?”


“Huh.....?”


Melihat dengan matanya, benda hitam itu jelas adalah miasma, Woodman menghela nafas dengan lembut dan meletakkan tangannya di dagunya seakan meraba jenggotnya.


Lawannya adalah Demon King. Jika mungkin, Woodman tidak ingin bertemu dengan konfrontasi semacam ini.


Namun---dibawah keadaan ini, dia tidak bisa mengatakan kata-kata dengan sembarangan.


“...Kukira tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kau memang orang yang selalu tidak masuk akal.”


Woodman menarik nafas ringan, lalu menuangkan kekuatan ketangannya dan mengangkat tubuhnya dari kursi roda sedikit demi sedikit. Namun bahunya didorong turun kembali oleh Karen.


“Itu bukanlah permintaannya, Elliot.”


“Jangan khawatir, Karen.”


“Tapi...”


Woodman tersenyum dan menghalau tangan Karen dengan lembut, sambil terhuyung-huyung.


“.......Setidaknya, aku masih memiliki tangan kiri dan kananku.”


Dia membisikkan kata-kata yang tidak bisa didengar Westcott yang berdiri di depannya.


“Jadi... ayo mulai. Ngomong-ngomong, Ike, seharusnya ini adalah kali pertama aku bertemu denganmu secara terang-terangan.”


“Benarkah? Aku memang lemah. Hanya dengan berdiri di depanmu saja sudah membuat kakiku gemetaran, Elliot.”


Westcott sedikit bergurau.


Woodman menunjukkan senyuman lebar untuk membalas gurauan Westcott dan menarik keluar sebuah benda yang terbuat dari emas yang menyerupai label nama.


***


Meskipun setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda berkaitan dengan berapa lama mereka bisa bertahan dengan pemikiran logis sebelum kepikunan menyerang mereka, jika pertanyaan dibalik menjadi bagaimana awalnya mereka mampu mengingat, aku akan menjawab saat berumur 5 tahun.


Melihat kebelakang, aku selalu sendirian.


Ini bukanlah pertanyaan yang abstrak. Bukan juga topik tentang filosofi yang menyebabkan evaluasi diri sendiri. Itu murni dan wajar; orang-orang mungkin bisa melihat cahaya yang bersinar kearah dirinya sendiri. Orang tua, saudara laki-laki dan saudara perempuan--- adalah eksistensi yang seharusnya berada disana---sesuatu yang dikenal sebagai keluarga tidak ada di sisiku.


Ketika aku menyadarinya, perasaanku---untuk memberitahu kebenarannya, aku tidak benar-benar bisa mengingat sejauh mana yang kuingat, aku juga tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata emosi apa yang kurasakan. Tentu, bukan berarti tidak ada yang bisa menenangkan hatiku, namun sensasi ini tidak seperti kesedihan biasa ataupun kesendirian. Itulah mengapa, emosi ini karena kehilangan keluarga; kesedihan karena telah mengalami hangatnya keluarga; kesepian karena tidak menjadi seorang diri sejak awal.


Aku memang sendirian sejak awal, oleh karena itu mendefinisikan perasaan ini sebagai kesepian mungkin tidak benar. Memang tidak bisa dihindari. Karena, anak diberi hak spesial untuk memiliki keluarga. Tapi aku tidaklah spesial, akupun juga tidak bisa mengelak. Jika aku ingin bicara, ku anggap itu yang paling mirip dengan filosofi ketiadaan.


---Tapi sekali lagi, sudah berapa lama sejak ini terjadi ?


Yang pasti, hari-hari itu sudah berakhir.


Untuk pertama kalinya, aku memiliki keluarga.


Tentu saja, kami tidak sedarah. Hanya sepasang suami-istri, yang menginginkan seorang anak, mereka tertarik padaku dan ingin mengadopsiku.


Mereka melewati semua cara yang mereka butuhkan untuk mengadopsiku, aku sudah tidak ingat lagi. Tapi, jujur, meskipun samar aku msih ingat apa dikatakan seorang staf kepadaku, aku yang saat itu masih kecil benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.


Namun, aku tidak mempedulikan hal itu.


Bagiku, untuk seseorang yang selalu sendirian, ini pertama kalinya aku memiliki keluarga.


Kebenaran ini memberiku efek yang besar, akupun sampai bingung.


Ayah, ibu, bersama seorang gadis yang akan menjadi adikku.


Keluargaku sendiri, sebuah keluarga dimana aku ada didalamnya.


“Hai. Mulai hari sampai seterusnya, kami akan menjadi keluargamu.


Kata-kata yang keluar dari ibu langsung mencapai telingaku.


“---,ah, uh, aahh.”


Air mata mengalir keluar dari celah mataku.


Rasanya seperti ada warna yang sangat indah yang dilukis di seluruh dunia yang awalnya hanya ada warna hitam dan putih.


Seseorang yang menyayangiku.


Seseorang yang kusayangi.


Lalu aku bersumpah---untuk menyayangi mereka sepenuhnya---untuk menyayangi ayah, ibu, dan adikku.


***


“....., Ah.......”


Shido merintih dengan suara yang pelan dan membuka matanya.


“Itukan....”


Ada kesan seperti mimpi yang tadi baru saja terjadi; mimpi yang membuat orang bisa menghargainya namun sedikit samar, mimpi yang menunjukkan kesedihan, namun juga memberikan kehangatan.


“Nn.....”


Dengan kesadarannya yang perlahan kembali, Shido merasa sedikit gatal di pipinya, jadi dia mengusap wajahnya dengan tangannya.


Saat itulah dia sadar---wajahnya menjadi basah karena air mata yang menetes dari matanya, tidak jelas berapa volume air matanya yang sudah menetes karena sebagian kecil sudah menguap. Tampaknya mereka berada di gudang selama mereka tertidur.


“....Apa yang terjadi padaku...?”


Shido memainkan ujung rambutnya sambil melihat kesekelilingnya. Segera, penglihatannya yang kabur memproyeksikan sesosok objek.


Ternyata dia tertidur diatas ranjang. Selanjutnya, dinding yang putih bersih dan langit-langit memasuki pandangannya. Tempat ini seharusnya adalah ruang kesehatan Fraxinus.


Shido dengan santai meluruskan bagian atas tubuhnya, dengan maksud meregangkan tubuhnya. Ototnya yang kaku terasa sakit, persendiannya juga berbunyi.


Saat itu, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, dan para Spirit yang memasuki ruangan itu, dipimpin oleh Kotori.


“Permisi... ... apa, Shido!”


“Ooh! Kau sudah bangun!?”


Penuh dengan rasa heran, semuanya melebarkan matanya. Shido membuat senyuman ringan untuk merespon mereka.


“Aah... ...aku baru saja bangun.”


Shido memaksakan sebuah senyuman untuk menjawab mereka, Tohka, yang berdiri disamping Kotori, memiringkan kepala seolah menyadari ada sesuatu yang salah dengan Shido.


“Shido, ada yang salah? Kenapa kau menangis?”


“Ah, tidak ada... aku hanya merasa sedikit mengantuk.”


Ingin mengatakan bahwa mimpilah yang membuatnya menangis ternyata lumayan sulit, apalagi dia tidak ingin membuat semuanya khawatir, Shido berusaha untuk mengabaikannya dengan membuat senyuman.


“.........”


Sepertinya Kotori merasakan ada sesuatu yang salah dari sikapnya Shido ataupun sebaiknya, dia memperlihatkan ekspresi ragu, hanya untuk menarik nafas ketidak berdayaan dan memandanginya lagi.


“Lupakan itu. ----yang lebih penting, Shido, apa tubuhmu baik baik saja ?”


“Eh? Ahh... kupikir aku baik-baik saja...”


Meskipun Shido sedikit bingung dengan perilaku Kotori yang serius, dia mencoba menghilangkannya dengan menelah ludahnya. Dengan kata-kata Kotori sebagai pemicunya, ingatan yang sebelumnya samar, kini mulai jelas kembali.


Sebelum kehilangan kesadarannya, dia memeluk Mukuro, Shido memasuki atmosfer dengan tubuhnya sebagai pelindung, meskipun dengan menggunakan perlindungan Angel, benar-benar gila, aksinya yang berani itu pasti membuat Kotori cemas dan khawatir.


“Dimana Mukuro.... bagaimana dengan Mukuro!? Apa dia baik-baik saja!?”


Shido langsung bangkit dengan momentum yang cukup untuk membuat selimutnya terbang.


Beruntungnya, dengan perlindungan dari Zadkiel dan Raphael, ditambah kemampuan pemulihan dari Camael, tidak ada luka serius ditubuh Shido. Namun, karena kesadarannya hilang sebelum mendarat dipermukaan bumi, Shido tidak bisa memastikan keselamatan Mukuro.


Setelah itu, Kotori berdehem dan mulai bicara.


“----Tidak tahu, ketika kami menemukanmu, Mukuro sudah menghilang. Tentu saja, kami memiliki kemungkinan kalau kalian terpisah di udara dan saat ini sedang dilakukan pencarian skala besar dilokasi pendaratanmu....”


“Jadi... maksudmu...”


Shido tidak bisa menahan kekhawatirannya, lalu Kotori menggelengkan kepalanya untuk meyakinkan dia bahwa semuanya baik-baik saja.


“Meskipun dia hilang atau apapun, saat ini, Mukuro masihlah Spirit dengan Astral


Dress lengkap. Fakta bahwa kami menemukanmu baik-baik saja, sudah menjadi bukti bahwa dia juga baik-baik saja. Dengan asumsi bahwa dia sudah siuman setelah kalian mencapai permukaan, mungkin dia memutuskan untuk lari dan bersembunyi di suatu tempat.”


“Be-begitu ya...”


Mendengarkan penjelasan Kotori, Shido menghela nafas lega.


“............”


Namun setelah itu, Shido tenggelam dalam renungan lagi, dia menggertakkan bibirnya. Fakta bahwa Mukuro tidak terluka memang menggembirakan. Namun, dia memilih untuk pergi dan sekarang keberadaanya tidak pasti membuat pikiran Shido habis dan merasa tidak berdaya.


Shido melihat tangan kanannya tanpa bersuara dan mengepalkannya----seakan menegaskan bahwa dia akan menggunakan kunci yang sudah ada ditangannya.


Disaat penaklukan, Shido telah menusuh dada Mukuro dengan [Michael] palsu, sehingga segel yang ada dihatinya kini terbuka.


Tapi akhirnya, ini hanya permulaan. Memang benar bahwa segel dihatinya telah rusak, ketiadakadaan Mukuro hanya akan mengacaukan prasangka baik yang dia miliki terhadap Shido. Pada akhirnya, dia hanya akan membangunkan emosinya yang telah disegel, ataupun skenario terburuknya, mungkin ada perasaan yang membuatnya berpikir telah dihina oleh Shido akan muncul.


Dan yang paling penting ini dapat mempengaruhi baik dan buruknya, selama mereka bertemu, Shido memang sudah pingsan. Meskipun dia tidak bisa mencegahnya, wajah Shido berkerut menunjukkan rasa penyesalannya.


“...Maaf semuanya, meskipun kalian sangat berarti untukku, tapi...”


Saat Shido mengatakannya, para Spirit membuka mata mereka lebar-lebar karena terkejut, lalu mereka menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.


“Apa maksudmu? Kami semua sudah tahu seberapa besar usahamu itu.”


“Itu benar. Jangan bicara begitu.”


“Kau merasa tertekan, bukan? Ingin ngegrepe oppaiku? Yah, meskipun mereka belum tumbuh ketingkat yang enak digrepe sih! Ahaha!”


Nia memecah suasana dengan candaan garingnya. Keringat dingin menetes dari pipi Shido saat dia tertawa.


“Eh, bisakah aku!? Melakukan sebuah pelayanan!! Padamu perawan maria!?”


Berbeda dengan reaksinya Shido, Miku menggoyangkan jarinya, wajahnya memerah karena sange. Namun, karena subjek pembicaraannya mulai melenceng dari topiknya, belum lagi pembicaaran ini agak ero, Kotori dan yang lainnya menahan Miku.


“Miku, Diamlah!!”


“Ah~n! Jahat!”


“Haa... benar-benar. Jadi, rasanya menyedihkan karena tidak bisa melakukan apapun. Selain itu, sepertinya tidak ada perkembangan sama sekali. Jika kau ingin membayar usaha kami, maka maju kemari dan ayo bersorak.”


“A-ah, yeah... kau benar.”


Shido tersenyum ringan dan mengangguk setuju. Setelah Kotori mengatakannya. Meskipun merenungi apa yang telah terjadi itu tidak terlalu berarti, tidak mengambil pelajaran dari kekalahan dan terus maju hanya akan membuat mereka terjatuh lagi. Karena semua orang yang percaya padanya, Shido tidak bisa tinggal diam.


“----Ah.”


Setelah berpikir sampai disini, Shido tiba-tiba teringat sesuatu.


“Ada apa, Shido?”


“Ngomong-ngomong, Kotori, apa yang terjadi dengan markas Ratatoskr...!?”


Shido mengepalkan tinjunya karena tegang saat dia bertanya.--- benar. Tepat sebelum Shido dan yang lainnya pergi ke luar angkasa, pelabuhan dari Fraxinus, markas Ratatoskr, diserang oleh DEM Industries.


Mendengar pertanyaan Shido, Kotori tidak melakukan apapun kecuali mendesah saat dia menjawabnya.


“....Menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja akan sedikit tidak masuk akal. Kerusakannya jauh lebih fatal. Kami tidak punya pilihan lain selain meninggalkan markas.”


“Seburuk itukah, huh.... bagaimana dengan Woodman-san dan Karen-san...!?”


“..........”


Shido mengeluarkan ekspresi gemetar saat dia menanyakannya. Lalu Kotori mengeluarkan terminal kecil dari saku jaketnya, dan menghadapkan layarnya ke arah Shido.


“Eh......?”


Tidak menyadari apa maksud dari sikap Kotori, Shido benar-benar terdiam. Setelah beberapa saat berlalu, layar terminal itu menampakkan wajah Woodman.


“Woodman-san!!”


“----Aah, Shido-kun. Bagaimana kondisi tubuhmu? Ku dengar kau memasuki atmosfer hanya dengan tubuhmu saja.”


“S-soal itu.... aku baik-baik saja. Lupakan itu, apa yang terjadi padamu, Woodman-san...”


“Kau memikirkanku juga. maafkan aku karena telah membuatmu khawatir---oguh!”


Saat berbicara, Woodman mengeluarkan suara serak dari tenggorokannya. Alis Shido bergetar.


“Woodman-san?”


“Bagaimana kau bisa bilang itu baik walaupun kau kehilangan tangan dan kakimu? Selain itu kau juga penuh dengan luka dan memar, kau benar-benar tidak bisa dikatakan baik-baik saja.”


Sebuah suara menggema, itu bukan suara Woodman, bunyinya seperti lonceng, apalagi terdengar feminim--- itu suara Karen. Meskipun nada suaranya halus dan stabil sama seperti sebelumnya, untuk beberapa alasan, rasanya saat ini dia hampir tidak bisa menahan amarahnya.


“Cepat pergi ke unit Realizer medis. Bukannya lebih penting jika kita menjaga kestabilanmu?”


Woodman memaksakan tawanya dan memandang kearah Shido.


“Maaf soal itu. Sebenarnya aku masih ingin berbicara dengamu lebih lama lagi, tapi seperti yang kau lihat, Karen sudah seperti ini.”


“Tidak masalah, semua baik-baik saja.... juga apa maksudmu dengan kehilangan tangan dan kakimu?”


“Elliot.”


“Baiklah, baiklah, tolong berhenti merengek seperti itu, Karen.”


Sosok Woodman menghilang dari layar display, dan transmisinya terputus. Kotori mengangkat bahunya dan memasukan kembali terminal itu.


“-----begitulah. Sepertinya mereka berhasil melarikan diri.”


“O-oh... aku masih berpikir jika aku mendengar sesuatu yang serius.”


“Yah, aku juga mempermasalahkannya.... tapi mereka berdua selalu mencoba untuk menutup-nutupi entah bagaimana caranya dan mengalihkannya dari topik.”


Setelah Kotori mengembuskan nafas dengan lembut, dia mencoba mengembalikan energinya dan menyilangkan tangannya.


“Pokoknya, kau harus istirahat, Shido. Kami akan berhati-hati saat mencari Mukuro. Jika, ada kesempatan, kami menemukannya dan kau belum bisa bergerak, kau bahkan tidak akan bisa bicara dengannya.”


“Ahh, aku mengerti.... tapi aku penasaran kemana Mukuro pergi....”


“Kami tidak akan berada dalam kekacaun jika kami tahu dimana dia. Dengan [Michael]-nya, dia bisa pergi kehampir semua tempat yang dia mau. Mungkin dia pergi kesuatu tempat di alam semesta yang tidak kita ketahui, atau mungkin dia mengalami kecelakaan lalu menunggu disuatu tempat.”


Disaat itu juga, saat kata-katanya mencapai titik itu, Kotori berhenti bicara.


Matanya melebar membentuk lingkaran smpurna, tanpa suara dia memandang kearah Shido.


“Eh? Ada yang salah, Kotori? Apa ada sesuatu...-----!?”


Shido merasakan gelombang kesinisan yang datang saat dia bertanya dengan memiringkan kepalanya----hanya untuk menghentikan omongannya seperti yang terjadi pada Kotori beberapa saat yang lalu. Tidak, lebih tepatnya, karena bingung ia tidak punya pilihan lain selain menghela nafas dan berhenti bicara.


Namun, tidak sesuai harapan. Setelah itu, tanpa peringatan apapun, dua tangan bergerak dan menjulur kepunggung Shido, merangkul bahunya lalu berteriak melengking setelah itu.


Fenomena supranatural itu membuat tubuh Shido kaku dan mati rasa sampai ia mencoba untuk menengok kebelakang untuk mendapatkan pandangan sekilas siapa atau apa yang ada dibelakangnya.


“Eh.........?”


Segera ia menghilangkan ketakutannya, Shido mendapatkan wajah sosok seorang gadis yang ia kenal, tanpa sepengetahuannya, sekarang dia disini. Dia berekspresi terkejut dan kedua matanya terbuka lebar.


“----hueh, sepertinya aku membiarkan semua orang mengetahuinya.”


Keributan ini, membuat ujung bibir gadis itu naik, yang terlihat dari rambut panjangnya yang elegan adalah sepasang mata yang berkilau bagai emas dan dia menunjukkan wajah yang gembira.


Shido mencoba berpikir namun pikirannya sedang kacau namun hanya sesaat.


Bagaimanapun, tanpa disangka-sangka gadis itu tiba-tiba muncul tanpa mengucapkan salam. Sebagai gantinya, hasil dari ketidak mampuan otak untuk menggambarkan wajah seorang gadis yang saat ini terlihat gembira, kagum, dan senang.


Tidak diragukan lagi, gadis itu adalah---


“M-Mukuro.......!?”


Seorang Spirit yang telah bertarung dengan Shido di luar angkasa, Hoshimiya Mukuro, tanpa disadari dia muncul dari gerbang yang terbuka di udara kosong, sambil melingkarkan tangannya di bahu Shido.


“Apa.....!?”


“Kenapa Mukuro ada disini....!?”


“Panik. Bagaimana ini bisa terjadi ?”


Langsung mengikuti Shido, para Spirit menunjukkan keheranan mereka satu persatu. Mereka semua berseru sambil mengatakan ‘Huh?’ di ruangan itu. Setelah itu, Mukuro dilihat semua orang, lalu berdiri disatu sisi, namun langsung bergeser kesisi yang lain dan mengelus pipi Shido dengan bisikan main-main.


“Berani sekali kau membuat Muku menunggumu, dasar cowok gak peka. Tapi, Muku sudah mengijinkanmu, engkau yang sudah mencuri hatiku hingga tingkat tertinggi.”


“Hah......, Eh......., Apa.......?”


“Kenapa wajahmu jadi begitu? Hehe, cowokku tersayang.”


“.....!?”


Mukuro membisikkan kata-kata manis sambil memberi hidung Shido satu sampai dua cubitan. Kaget, Shido merasa dirinya telah dihipnotis dengan sebuah mantra. Tidak mengherankan, karena lawannya adalah Spirit yang dulu pernah menghujaninya dengan meteor tanpa pikir panjang. Sekarang sikapnya melunak dalam waktu yang singkat... tidak, dia melunak karena gagal memberikan keadilan. Akan masuk akal jika dia adalah orang lain yang memiliki wajah yang mirip. Tohka dan Kotori, juga, berkata begitu karena perbedaan sikap yang sangat jauh.


“Ah----“


Shido menurunkan alisnya, mencoba untuk memikirkan penyebab perubahan ini.


“Mungkinkah ini karena segel di hatimu sudah terbuka... ...?”


“....!”


Mendengar omongan Shido, para Spirit melebarkan matanya satu per satu.


Itu benar. Jika membandingkannya saat di luar angkasa dengan dia yang sekarang, jika ada sesuatu yang telah terjadi diantara dua titik itu, maka insiden dimana Shido membuka segel yang ada di hati Mukuro itulah jawabannya.


Sesuai dengan ingatan Shido, sulit sekali diekspresikan, tapi sekarang gadis ini terlihat lebih bersemangat tidak seperti dirinya yang dulu. Mugkinkah ini adalah sifat aslinya sebelum hatinya disegel. Tidak, bahkan jika itu pernah terjadi, enteh mengapa Mukuro terlihat lebih tergila-gila dengan Shido. Keringat dingin mulai terbentuk di pipi Shido lalu dia bertanya.


“Mukuro....? kenapa kau jadi sangat bersahabat? Atau apa yang membuatmu begitu dekat denganku? Um, aku tidak bilang itu buruk, malahan itu bagus.....”


“Hueh?”


Mukuro memperlihatkan ekspresi bingung untuk sesaat, lalu membalasnya.


“Karena Nushi-sama*, engkau yang mengikuti Muku hingga ujung semesta dan membebaskannya, bukankah hubungan itu tidak masuk akal? Sebaliknya, Muku sebenarnya tahu tapi cowok yang mulutnya tidak tahu malu dan sopan santun menyelamatkan Muku dan memberinya kebahagiaan.”


[*Note : Nushi-sama : panggilan seorang gadis sopan kepada seorang laki-laki di zaman edo]


“Ugu... ...”


Kenyataannya memang selaras dengan perkataannya.


Dari sudut pandang Shido, sebelum dia memutuskan untuk menyelamatkan para Spirit, dia telah mengalami banyak situasi sulit dan menyedihkan. Disisi lain, dari sudut pandang Mukuro, dia adalah perayu yang muncul entah dari mana lalu bilang ‘I Love You’.


“Maaf, maaf, Nushi-sama itu terlalu imut, aku jadi tidak tahan dan ingin menggodamu.”


Melihat Shido yang sedang kebingungan, Mukuro tertawa dengan riang.


“Apa yang kukatakan bukanlah kebohongan. Karena segelnya sudah dibuka, apa Nushi-sama tahu tentang Muku dan apa yang Nushi-sama bawa untuk Muku sungguhnya sudah terikat ada Nushi-sama. ... karena itu, jika Nushi-sama ingin tahu alasannya kenapa Muku menginginkanmu, maka alasannya----“


Mukuro menekuk jari seperti sedang merenung berulang kali, lalu mengepalkannya dan bertepuk tangan sesudahnya.


“-----Paradoksal*, menurutku.”


[*Note : Paradoksal : pernyataan yang seolah bertentangan namun memiliki unsur kebenaran, kalian yang anak bahasa pasti tahu]


“.....Hey, hey.”


Shido menarik nafas berat saat mendengar kesimpulan Mukuro. Namun gadis itu hanya menyikapinya dengan bercanda.


“Cinta, benci, dan suka; semua perasaa itu, sebenarnya mirip dengan paradoksal---- sangat mirip dengan bagiannya Nushi-sama dan Muku.”


“Mirip.......?”


Meskipun sudah dijelaskan tetapi makna terpenting yang ada disana masih tidak jelas, Shido memiringkan kepalanya karena bingung. Namun, memiliki niat baik terhadap diri sendiri dan orang yang disayang itu bukanlah hal yang jarang, dan kedekatan terhadap Shido sudah berkembang dalam hatinya Mukuro. Ketika Shido sedang menyampaikan pendapatnya, Mukuro tertawa dan melanjutkan.


“Intinya. Meskipun begitu, Nushi-sama. Terimalah, sumpah setia Muku padamu untuk selamanya.”


“Sumpah ?”


“Hueh. Nushi-sama sudah berjanji kan. Untuk memberikan kebahagiaan kepada Muku, lalu mengklaim Muku sebagai budak tubuhmu. ....saat membicarakannya, Muku belum mengerti apa arti dari budak tubuh. Bisa jelaskan pada Muku ?”


Mukuro berbicara tanpa rasa takut sedikitpun dan arti dari kata-katanya yang berat seperti akan menimpa semua orang yang mendengarnya. Semua Spiritpun hanya bisa membiarkan mulut mereka terbuka, dan mengerutkan alis mereka karena terkejut dengan kalimat yang masuk ke telinga mereka.


“Apa... ...!?”


“Shido, apa itu benar?”


“S-soal itu...”


“Uwah... ... bejat... ...”


“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Ini adalah kesalahpahaman... walaupun mungkin ini tidak dihitung satu, tapi aku punya alasan kenapa aku melakukan ini... ...?”


“Tunggu sebentar. Bisakah aku mengganggumu sebentar, Mukuro ?”


Saat Shido ingin memberi penjelasan tentang tindakannya, Kotori, berdiri di depan, memotong pembicaraannya. Mukuro menunjukkan ekspresi bingung saat menatap Kotori.


“.....Hueh? katakan apa maumu.”


“Senang bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Aku adalah adiknya Shido, Kotori.”


“Hoho......? dalam situasi ini, sebuah kehormatan kau bisa bertemu dengan Muku.”


“Kondisi Shido saat ini belum sepenuhnya pulih. Mukuro, luka yang diterimanya karena memelukmu saat kalian terjatuh belum sepenuhnya pulih.---tentu saja, janji yang dia buat denganmu tidak sepenuhnya benar. ... Meskipun begitu, kita lupakan saja bagian budak tubuhnya karena itu adalah hal yang berbeda, pokoknya Shido sangat serius ingin menyelamatkanmu. Tapi kau harus menunggu sebentar lagi.... ah, sehari mungkin sudah cukup.”


“Hueh.”


Mendengar perkataan Kotori, Mukuro bergumam dengan nada rendah. Setelah itu dia meraba dagunya dengan gembira.


“Jadi, karena itu. Terluka karena melindungi Muku, eh? Sungguh tidak bisa dipercaya, jadi aku harus menunggu sampai besok, ya kan ?”


“Benar, terima kasih atas pengertiannya! Jika mungkin, kami ingin kau berada disini dan beristirahat sampai----“


“Kau tidak perlu mencemaskanku.”


Mukuro mebuka telapak tangannya seolah-olah untuk menutupi suaranya Kotori.


Selanjutnya, Mukuro mengendurkan dadanya dan memeluk bahunya Shido, lalu bersandar ke tubuhnya Shido dengan santai.


“----Permintaanmu terlalu berlebihan. Dana yang Muku sisihkan dengan segenap hati mungkin cukup untuk bersenang-senang saat kencan kita besok, Nushi-sama.”


Setelah itu, Mukuro melambaikan tangannya dan dia kembali memasuki gerbang yang dia buka sebelumnya, menghilang dalam kehampaan. Setelah dia mengatur posisi tubuhnya, gerbangnya mulai berputar seperti pusaran yang bergolak dan secara bertahap menyusut hingga mencapai ukuran dimana itu bisa meledak, lalu menghilang tanpa sejak dan meninggalkan dinding ruang kesehatan yang masih utuh.


“........”


Ruang kesehatang seketika ditutupi dengan suasana hening, lalu Nia mengeluarkan suara ‘Fiuh!’ seteah beberapa saat karena tidak mampu menahan rasa gelisahnya.


“Tadi itu benar-benar membuatku ketakutan! Apakah dia adalah Mukku-chan yang digosipkan itu? Sikapnya sangat berbeda dari apa yang kudengar!”


Nia berteriak seperti mengeluarkan semua nafas yang ada di dalam paru-parunya. Para Spirit yang lain segera mengikutinya, untuk menghilangkan ketegangan mereka.


“Heran. Nia benar. Aku percaya dia menjadi Spirit yang lebih dingin. Selain itu, Shido, jelaskan apa arti dari ‘budak tubuh’ ini.”


“Ini karena Shido-san membuka hatinya.....kan? tentang... yang lainnya... kupikir.”


“Hnn, tapi bukankah itu imut. Tubuhnya yang indah itu, laki-laki tetaplah laki-laki. Ehehe, seleranya Darling tidak terlalu buruk.”


“.....Miku, nakal. Bukan berarti Shido itu lebih baik.”


“Tidak! Ini semua karena pilihan itu!”


Semuanya menatap Shido dengan tatapan mematikan. Shido mengeluh dengan pelan, ia merasakan sisa-sisa kehangatan dari suhu tubuh Mukuro di pundaknya, lalu berbalik untuk melihat Kotori setelah itu.


“----Kotori.”


“Ya, ya. Meskipun menyakitkan saat mengatakannya, aku akan menyusun rencanamu untuk besok. Setelah Ratatoskr direnovasi, kami akan memasang fasilitas baru yang berbeda dengan kapsul medis yang sebelumnya. Jadi, istirahatlah untuk hari ini.”


“Sebuah fasilitas baru? Apa yang berubah?”


“Aku tidak akan memberitahumu, ini adalah kejutan. Tapi aku bisa menjamin hasilnya. Kau harus beristirahat sampai besok agar kau bisa pulih sepenuhnya.”


Kotori menggenggam tangannya saat dia mengatakannya. Shido mengangguk setuju dan melanjutkannya.


“Baiklah, aku mengerti. ----Terima kasih, Kotori.”


“Ha? K-Kenapa kau berterima kasih padaku?”


“Eh? Yah, bukankah kau menundanya di hari yang lain karena mempertimbangkan kondisi tubuhku?”


“Apa......!”


Ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya Shido, wajahnya Kotori berubah menjadi merah.


“A-Apa yang kau katakan! Itu karena aku harus membuat persiapan untuk bantuan yang akan kubuat!”


Kotori menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi kebingungan yang membuat pipinya menjadi merah. Melihat kondisinya yang seperti itu, Kaguya dan Nia tersenyum jahat.


“Hoh hoh~”


“Imouto-chan selalu berlagak dan juga mempesona seperti dalam buku.”


“P-Pokoknya! Besok adalah pertempuran yang menentukan! Pastikan tubuhmu fit saat waktunya tiba!”


Kotori menunjuk Shido dengan sekuat tenaga, lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan tanpa kata-kata setelahnya.


Sambil menatap Kotori yang meninggalkan ruangan itu, Shido membuat senyuman kecut.


“Haha....... yah, mau ini ataupun itu biarkan aku merasakan sendiri fasilitas medis yang dia banggakan itu. .... kalau dipikir lagi, dia pergi tanpa memberitahuku dimana tempatnya.”


Shido menggaruk pipinya sambil bertanya apa yang harus dilakukan, Miku menepuk tangannya sekali seakan menyadarkannya dari lamunannya.


“Ah----, kami pernah menggunakan fasilitas ini sebelumnya, jadi biarkan aku menunjukkan jalannya padamu.”


“Um, baiklah. Kuserahkan padamu.”


“Hehe, serahkan padaku~. Hehehe.....”


“......?”


Miku tertawa tanpa tahu penyebabnya; setidaknya, Shido tidak mengetahuinya, yang memiringkan kepalanya karena sedikit curiga.






***






“......Uah~......”


Kira-kira 30 menit sudah berlalu sejak saat itu.


Di sebuah tempat pemandian yang luas, Shido merendam tubuhnya kelelahan di kolam air panas. Sebenarnya. Tempat yang diarahkan oleh Miku dan yang lainnya adalah sebuah pemandian besar.


Dikatakan bahwa cairan yang dihasilkan dari unit Realizer mengandung kekuatan magis; jadi mandi dengan teratur akan memberi efek penyembuhan. Efeknya bisa menyembuhkan tulang yang patah dan luka memar, mengurangi kelelahan, dan lain sebagainya. Contohnya, seperti air mancur penyembuhan yang ada di labirin yang tak terhitung jumlahnya dan dungeon yang ada di game RPG, yang bisa membuatmu pulih dalam sekali masuk.


Faktanya, disini jauh lebih enak dan nyaman daripada pengobatan di capsul medis. Shido menenggelamkan tubuhnya sampai ke bahu di dalam air panas seputih susu, nafas nyaman keluar dari mulutnya lagi dan lagi.


“Begitu ya...... tidak buruk. Tidak heran Kotori tidak memerlukan hal-hal yang rumit.”


Shido tersenyum saat dia merelaksasikan tubuhnya, sambil menatap langit-langit diantara uap yang terlihat samar.


“Besok ya...... huh.”


Lalu dia berpikir keras dalam bisikan rendah.


Meskipun sudah memiliki banyak pengalaman sebelumnya, gugup adalah salah satu perasaan yang masih terus muncul saat akan berkencan dengan Spirit. Penyebab utama, bagaimanapun juga, adalah ketidakpastian yang berasal dari ketidak tahuan akan bahaya apa yang akan akan terjadi---- disamping rasa gelisah yang membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuka pintu hati targetnya.


Memang benar, Mukuro, karena segel dihatinya sudah dilepaskan, dia menjadi jauh lebih dekat dalam waktu singkat; meski demikian, bukan berarti dia akan langsung setuju untuk menyegel kekuatannya. Jika sejak awal dia adalah gadis yang terus terang, ramah, dan tidak perlu dipertanyakan lagi, tidak ada alasan baginya untuk menyegel hatinya dengan Angelnya sendiri.


“... yah, mengkhawatirkannya sekarang tidak akan membuahkan hali yang bagus.”


Shido mengambil air panas dengan tangannya dan membasuhkan ke wajahnya untuk mengendurkan pipinya, yang tanpa sepengetahuannya, menjadi tegang tanpa ia sadari.


Tentu saja, bukan berarti latihan dalam imajinasinya tidak berguna, tapi yang Shido butuhkan sekarang ini adalah mengikuti perintah Kotori dan memulihkan tubuhnya untuk hari berikutnya.


Jika tidak, walaupun tubuhnya sudah pulih sepenuhnya, jika ia mengalami insomnia karena tekanan dan kecemasan yang dialaminya, sehingga kondisinya menjadi kurang baik, semuanya akan gagal dan sia-sia.


Singkatnya, sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal lain seperti itu tapi untuk menikmati sepenuhnya manfaat dari mandi air panas ini, mulai dari bahu sampai kepala juga yang lainnya. Saat Shido menyimpulkan pemikirannya, untuk meningkatkan pemulihannya sejauh mungkin, sekarang dia merendam bagian atas tubuhnya sampai keatas hidung, lalu meniup gelembung saat dia mengeluarkan nafas.


----di saat itulah....


“....Hm?”


Tiba-tiba, Shido mengerutkan alisnya, karena melihat beberapa gelembung yang ia rasa bukan berasal dari nafasnya mengambang menuju permukaan air.


Lalu dia memeriksa kolam hangat seputih susu itu dengan teliti, saat itulah dia melihat siluet seseorang yang bersembunyi dibawah permukaan air. Pemandangan itu mirip dengan seekor buaya yang menyembunyikan tubuhnya dibawah air untuk menangkap mangsanya.


“..............”


Setelah Shido menunjukkan ekspresi terkejut, si pemilik bayangan itu mulai bergerak melalui air dan menunjukkan dirinya.


“----Shido.”


“Uwah!?”


Karena terkejut, tiba-tiba kepala Shido membentur sisi kolam pemandian itu. Kemuadian, seseorang yang muncul itu sekarang menjulurkan tangannya kearah Shido dengan wajah tanpa ekspresi.


“Jangan takut, Shido.”


“......Origami.”


Shido meneriakkan nama dari gadis itu dengan keras, sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya.


Alasannya jelas. Origami yang muncul di depan matanya tidak mengenakan apapun selain butiran-butiran air yang melindungi tubuh telanjangnya.


“....Biarkan aku bertanya sebentar, apa yang kau lakukan?”


“Aku ingin menggosok punggungnya Shido.”


“Kau ingin melakukan itu, jadi kau bersembunyi dibawah kolam?”


“Tepat sekali.”


“Sambil telanjang bulat?”


“Ini adalah adat dari pemandian umum.”


“....Bagaimanapun juga, aku baru masuk ke pamandian ini selama 10 menit... ...”


“Sejak Shido memasuki kolam, tingkat Shidonium yang ada di kolam ini meningkat.”


“Shidonium?”


Menggunakan nama dari unsur kimia yang belum ditemukan, Shido membalikkan punggungnya kearah Origami. Akhirnya, Origami langsung mendekati pinggangnya Shido sambil mengeluarkan suara desiran air.


“Membersihkan tubuhmu sendiri disaat kau masih terluka itu sulit. Serahkan padaku!”


“T-Tidak perlu! Aku baik-baik saja! Anggap saja aku sudah bersih sebelum datang kesini!”


“Itu belum benar-benar bersih. Buktinya disini masih tercium baunya Shido.”


“Hanya orang yang memiliki hidung setara anjing pelacak seperti kau dan Tohka saja yang bisa menciumnya!”


Shido mengeluarkan suara yang mirip dengan ratapan, tapi Origami tidak mempedulikannya. Tangannya Shido yang menutupi matanya langsung disingkirkan olehnya.


“Waa......!”


Selang beberapa detik, kulit seputih salju yang memantulkan cahaya milik Origami tertangkap retina matanya, seketika itu Shido memaksa untuk menutup matanya.


Pada akhirnya, Shido masihlah seorang siswa SMA yang normal. Bohong jika dia bilang dia tidak terangsang dengan tubuh telanjang yang mempesona milik seorang gadis cantik seperti Origami yang berada tepat di depan matanya.


Tapi, bagaimanpun juga, semua itu lebih mirip ladang penuh ranjau yang sangat berbahaya ataupun tanaman pemakan serangga yang memiliki enzim pencerna, sekali dia termakan godaan yang ada di depan matanya lalu mengambil tindakan, konsekuensinya akan berkembang diluar kendalinya dan itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.


Tapi Origami tidak peduli sedikitpun dengan kegelisahan Shido dan secara bertahap memperkuat kekuatan yang ada di tangannya.


“Serahkan padaku. Aku akan menjilat-..... membersihkan seluruh tubuhmu sampai bersih.”


“Barusan kau bilang ‘Menjilat’!?”


“Hyaa-----------------------------!?”


Origami menarik kedua tangan Shido dalam sekali tarikan, lalu menjilati lehernya dengan rakus seperti vampir yang kelaparan.


Bagaimanpun juga, semuanya telah terjadi.


“Darling~~~~~! Aku kemari untuk menggosok punggungmu~~~~~!”


Pintu kamar mandi seketika terbuka dengan lebar, dan Miku, dengan telanjang, memasuki kolam.


“......Ugh.”


“Uaagh! M-Miku!?”


Shido menaikkan volume suaranya saat ia berteriak, tetapi tidak berhasil karena Miku mengayunkan rambutnya yang basah seperti sedang berakting dalam sebuah iklan sampo, seperti tanpa beban dia memamerkan tubuh proporsional mempesona miliknya dan tersenyum setelahnya.


“Benar! Ini adalah Miku yang sudah membuatmu menunggu lama, sekarang semua terserah kamu! Ngomong-ngomong, ahhhhh! Origami-san juga disini! Aku bisa mati tanpa penyesalan!”


Melihat kehadiran Origami, Miku menggoyangkan pinggulnya dan mendekat kearah mereka. Walaupun Origami tidak mengucapkan sepatah katapun, wajahnya penuh dengan penyesalan karena kesempatannya terbuang lalu ia mengerutkan alisnya.


Sesaat setelah kemunculan Miku, para tamu tak diundang lainnya datang ke pemandian disertai keributan.----Lebih tepatnya, mereka adalah para Spirit.


Semuanya bertingkah sesuai dengan sikap mereka sendiri tentang jenis dan cara mereka memasuki kamar mandi, baik dengan senang hati ataupun malu-malu, saat mereka berjalan kearah Shido.


“Shido! Apa tubuhmu baik-baik saja!? Aku datang untuk membantu!”


“Kakaka, sudah kenyang dengan pemandian air panas yang menyehatkan? Biarkan aku berada disisimu.”


“Terjemahkan. Hal ini terjadi karena Miku yang tertarik untuk menggosok punggung Shido, dan orang yang sudah melawan kesulitan besar karena malu untuk datang kesini adalah Kaguya.”


“Siapa yang bilang begitu!? Bukankah kita pernah mandi bersama sebelumnya!?”


Tohka, Kaguya, dan Yuzuru mereka semua memakai handuk untuk menutupi tubuh mereka. Tubuh dan lekukan mereka yang biasanya terhalang oleh pakaian sekarang ini terlihat dengan jelas, yang membuat seseorang lupa kemana mereka mengarahkan matanya.


Kaguya dan Yuzuru terlihat mudah dibedakan seperti biasanya, namun entah mengapa Shido merasa hidupnya berada dalam bahaya jika dia bilang ingin keluar dari tempat itu, jadi dia memutuskan untuk diam ditempat. Apa ini yang mereka sebut sebagai jiwa bahasa?


“Benar-benar......sangat berisik.”


“Pemulihan Shido adalah prioritas utama. Jangan lupakan itu.”


“......Jadi kenapa kau menyeretku ke tempat ini? Tertalu banyak orang sungguh tidak diperlukan.”


“Ahaha...... lebih banyak lebih menyenangkan.”


“Benar! Bukankah mandi bersama dengan Yoshino itu luar biasa, Natsumi-chan?”


“Bersama... ...!? I-Itu sangat... memalukan... ...”


Yang muncul berikutnya adalah Kotori, Natsumi, Yoshino, dan bonekanya Yoshinon, semuanya memakai pakaian renang yang berwarna-warni. Kotori memakai bikini berwarna merah; Yoshino dan Yoshinon mengenakan pakaian renang berwarna biru laut, sedangkan Natsumi memakai baju renang bergaris berwarna biru langit dan putih kapur.


“Yaa~, begitu banyak gadis cantik yang ada disini benar-benar pemandangan yang indah sekali. Hihihi, aku tidak tahan lagi.”


Yang terakhir muncul dengan berisik adalah Nia, meledak ke panggung dengan telanjang bulat tanpa rasa malu. Dilihat dari perilaku dan sikapnya, dari kepala sampai ujung kaki gadis ini terpancar aura selangkah seperti orang tua.


“ML!!”


Nia memukulkan sepotong kain yang ada ditangannya menuju bokongnya dan menghasilkan bunyi. Memang, itu mirip dengan orang tua.


“Me-Mengapa kalian semua datang kesini......”


Shido yang tepat berada ditengah-tengah membuka matanya sambil terkejut saat lengannya ditarik menuju kesamping, dan, dalam sekejap, ia merasakan sebuah sensasi lembut dan besar yang menempel dipunggungnya.


“Huh!?”


“Ehehe-----bukankah kami sudah mengatakan itu sebelumnya~? Kami disini untuk menggosok punggungnya Darling.”


Miku berbisik dengan sangat menggoda di telinganya Shido, menyebabkan keringat sebesar manik-manik menuruni wajahnya Shido.


“I-Itu tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.......”


“Yaaa~. Darling~, kau pelit. Aku akan menggosokmu sampai berkilau dengan spons besarnya Miku.”


“Uh......, Tunggu.......!”


Miku memperlihatkan senyuman licik, maju kearah Shido saat hitung mundur jamnya mencapai akhir. Tak lama setelah itu, untuk menahan nafsu liarnya Miku, para Spirit yang lain bergegas menolong Shido.


“Kubilang, apa yang kau lakukan, Miku!?”


“Shido! Apa kau baik-baik saja!? Aku akan membersihkan badanmu sekarang!”


“Ini adalah surga~! Houjou Nia ikut!!”


“Tunggu, kubilang tunggu... H-Hyaa--------------------!?


***






---Meskipun Shido tidak dapat mengingat kejadian dan peristiwa yang terjadi waktu itu dengan jelas, diantara waktu itu dan sekarang, setiap kali Shido melihat tumpukan pakaian berantakan yang ada di mesin cuci, anggota tubuhnya taidak mau berhenti gemetaran dan menggigil seolah mengingatkan kembali beberapa fenomena yang membuatnya trauma, menyebalkan, anak malang ini memiliki akhir yang tidak jelas.


***






“----Dimana Ike!”


Saat dia melangkah memasuki ruang utama DEM Industries, Ellen berteriak dengan suara yang sangat keras tanpa memperhatikan pencitraannya.


“Kepala Eksekutif Mathers......!? ada apa, apa kau terluka---“


Seorang karyawan yang bertugas menerima tamu yang ada dilobi melebarkan matanya saat dia bertanya. Ellen mendecakkan lidahnya, lalu mencengkram dasi orang itu sambil memaksanya memberi informasi yang diinginkannya.


“Kapan aku pernah berkata bahwa kau boleh mengkhawatirkan kondisi tubuhku? Jawab pertanyaanku. Ike---dimana dia sekarang?”


“Hii......, uh, W-Westcott-sama sudah kembali......aku khawatir dia berada di ruang kesehatan yang biasanya.”


“Begitu ya.”


Ellen mengerang dan berjalan melalui lorong tanpa mengatakan satu katapun.


Meskipun beberapa staf lain telah mendengar keributan yang ada di depan dan melemparkan pandangan penasaran mereka ke tempat kejadian, ketika mereka menyadari bahwa pemilik suara itu adalah orang kedua tertinggi di DEM, kepala eksekutif Mathers, semua orang menghindari tatapan mata mereka secepat yang mereka bisa.


Namun, saat ini, Ellen tidak peduli dengan hal sepele seperti itu, suasana hatinya sedang jelek.


Setelah menderita kekalahan telak karena kesalahan strategi saat bertarung di luar angkasa, tiga jam telah berlalu sejak Goetia yang sudah setengah rusak mendarat dipermukaan bumi. Kondisi pikiran Ellen saat ini dalam keadaan kacau dengan banyaknya emosi yang bercampur di dalamnya.


Kebencian, rasa haus darah, dia tujukan pada Fraxinus yang memberinya sebuah pengalaman memalukan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu ceroboh, bersama dengan------


“Merahasiakan penyergapan terhadap Ratatoskr dariku...... ada apa dengan dia----Ike!”


----Jengkel sekaligus marah terhadap rekannya, Isaac Westcott.


Ditengah kondisi emosionalnya yang tidak terkendali, Ellen terpaku pada pemikirannya yang mulai dekat dengan altruisme.*






[Note : Altruisme : sifat/sikap mementingkan orang lain]






Tanpa mengobati luka parahnya dan hanya menggunakan Territory-nya untuk menghambat pendarahan dan rasa sakitnya, ia bergegas kembali ke markas besar DEM Industries.


“Ellen!”


Saat Ellen berjalan melewati koridor, ada suara seorang wanita yang terdengar dari belakangnya.


Di DEM Industries, hanya ada beberapa orang saja yang boleh memanggil Ellen dengan nama depannya. Ellen tidak memalingkan kepalanya tapi dia menebak pemilik suara itu.


“......Artemisia.”


“Akhirnya aku menemukanmu. Setelah aku pergi ke toko senjata, aku diberitahu bahwa kau pergi menuju HQ. Apa tubuhmu baik-baik saja?”


Jantungnya berdebar-debar dan dia mempercepat langkahnya, si rambut pirang, gadis bermata biru laut ditangkap. Ellen melirik padanya dengan alis berkerut karena kesal.


“Jangan pikirkan aku. Atau mungkin kau ada disini untuk mengejekku?”


“Kau berbicara egois lagi...... Ah, kau terluka seperti yang kupikirkan. Sini. Biar kulihat.”


“......”


Karena kesal, Ellen mengabaikan bantuan Artemisia, lalu ia mempercepat kecepatannya setelah itu dia membuka pintu ruang kesehatan.


“Ike!”


Teriakan terdengar jauh lebih banyak karena gema yang dihasilkan ditempat itu. Semua staf medis yang ada diruangan itu melihat Ellen. Dan diantara mereka ada------


“----Kenapa, bukankah ini Ellen. Kau benar-benar kembali begitu cepat. Kau juga, kerja bagus, Artemisia. Kalian berdua pasti melewati pertempuran yang lumayan sulit.”


Isaac Westcott langsung menyentuh topik seperti yang selalu dia lakukan sebelumya, sambil melambaikan tangannya untuk menyapa mereka berdua.


“......Uh, soal itu, semuanya adalah kesalahanku. Aku tidak akan menolak jika kau ingin menyelidiknya lebih lanjut. Tapi, Ike, kau juga harus memberikan penjelasan yang masuk akal. Apa tujuanmu mengunjungi Elliot-----“


Namun, saat dia tengah berbicara, Ellen kehilangan kemampuannya untuk berbicara---dan berjalan.


Alasannya sederhana. Tangan Westcott yang telah dilambaikan pada mereka yang satunya mulai mengelupas sampai bagian tengah.


“Ap..... Ike, itu.”


“Hm? Aah.”


Westcott, seolah-olah hanya memperhatikannya setelah Ellen mengingatkannya, terlihat ada penampang daging dan tulang.


“Aku dikalahkan oleh mereka. Untungnya, setengah lenganku yang putus berhasil disembuhkan, dan harus sedikit dipotong. Jika aku menggunakan unit Realizer medis, besok pasti aku sudah bisa berdiri dan berjalan lagi.


“Um, Westcott-sama......!”


Tim medis yang merawat Westcott memanggilnya dengan ekspresi bingung. Tentu saja, reaksi seperti itu memang wajar saat melihat pasien mereka tiba-tiba melambaikan tangannya yang sedang diiris. Mereka tidak berdaya melihat pemandangan itu.


“Aah, maafkan aku.”


Meski demikian, Westcott menjawabnya dengan nada santai bahkan tidak memperlihatkan rasa sakit sedikitpun, ia mengangkat dan menempatkan tangannya lagi pada tindakan mereka.


“Kami akan segera melanjutkan proses regenerasinya. Apa itu tidak masalah?”


“Tolong lakukan. -----Dan begitulah, Ellen. Aku minta maaf tapi bisakah kita tunda dulu obrolan kita sampai nanti saja? Ngomong-ngomong, tampaknya kau juga terluka. Pergilah dan sembuhkan juga dirimu.”


“I-Ike......!”


Tidak peduli seberapa banyak Ellen memanggil namanya untuk mendapatkan perhatiannya, Westcott tidak menghentikan langkahnya, memasuki ruang perawatan tanpa mengucapkan kata-kata.


Sosok Westcott menghilang dari pandangan saat melewati pintu otomatis berwarna putih. Mata Ellen melebar saat dia mengingat kejadian beberapa detik yang lalu; akhirnya, ekspresi marah terlihat diwajahnya saat dia mengepalkan tangannya lalu melakukan sebuah pukulan.


“U-Um, Kepala Eksekutif Mathers......? Jika boleh, biarkan aku melihat lukamu---“


Suara gemetar karena takut dan ragu datang dari salah seorang staf medis yang ada di belakangnya.


Tidak ada maksud tersembunyi yang ada dikatanya. Meskipun orang memberi perintah adalah Westcott, sangat meragukan bahwa mereka memang peduli dengan kondisinya Ellen.


Bagaimanapun juga, pikiran Ellen saat ini mencerminkan permukaan air yang keseimbangannya baru saja diganggu dengan tekanan kecil dipermukaannya. Atau mungkin, lebih mirip dengan bahan kimia nitrogen yang mudah menguap triiodide, yang akan meledak dengan keras saat terkena sentuhan sehalus apapun. Dengan sedikit rangsangan, Ellen menghantamkan pukulannya ke tembok dengan emosi berapi-api seperti erupsi gunung berapi.


“......Argh!”


Bang! Dengan sangat keras, staf medis itu terselimuti dengan kesunyian.


......Dan ilusi damai itu langsung hancur ketika teriakan histeris Ellen saat dia menggenggam tinjunya dan terjatuh di lantai, situasinya tidak perlu dijelaskan lagi.






***






---Aku diadopsi oleh keluargaku yang sekarang sejak saat itu.


Meski aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang telah berlalu jika harus memberitahu kebenarannya, waktu itu, aku menemukan sebuah tembok dengan segala pertentangan yang berada di dalam perasaanku dan menandakan adanya gangguan.


Setelah itu, kenyataan bahwa ibu yang melahirkanku telah membuangku sudah lebih dari cukup untuk membuatku percaya bahwa aku ini tidak ada harganya, dan lahirnya pemikiran itu membuatku membangun tembok yang menghalangi hatiku.


Aku tidak bisa menghindar karena aku tidak berharga.


Aku tidak punya pilihan karena aku tidak punya tujuan.


Hanya karena jalan pikiran yang ku punya untuk menipu diriku sendiri dari rasa iri dan cemburu yang ku punya terhadap orang lain.


Namun, orang tua dan adik perempuan yang tiba-tiba hadir memberitahuku bahwa aku ini dibutuhkan.


Oleh karena itu, aku diterima, aku menjadi bingung.


Siapa yang tidak ingin? Aku, seseorang yang selalu mengira bahwa aku ini tidak berarti, bisa menjadi diinginkan secara tiba-tiba.


Awalnya, aku ragu. Dengan jengkel aku mengatakan sebaliknya, cepat atau lambat mereka akan membuangku bagimanapun juga.


Tapi dengan waktu yang mulai berlalu, aku akhirnya sadar hanya ada satu orang yang memikirkan diriku.


Namun, sedikit demi sedikit aku mengerti sampai ketitik ini, mungkin aku harus bilang itu adalah jarak tipis yang berrada diantara keluargaku dan aku. Hubungan canggung diantara kami mulai berkurang.


……pokoknya, sepertinya terjadi saat aku memanggil ayahku “Ayah”, ketika aku memanggil ibuku “Ibu”.


---Aku ingat itu saat bulan mei, saat hari ibu.


Dengan dompet yang tak pernah kuhabiskan uangnya yang ada ditanganku, aku berlari menuju toko bunga di depan stasiun seorang diri dan membeli sebuah karangan bunga anyelir.


Pada malamnya, setelah makan malam, aku memberikan bunga pada ibuku sebagai hadiah, sempat ragu sebelum berbicara, “Terima kasih, Ibu.”


Meskipun dia sempat terkejut untuk beberapa saat, air mata yang berkilau terlihat keluar dari matanya, dan dia memelukku dengan lembut.


Emosi yang bercampur aduk benar-benar nyaman, begitu hangat, begitu lembut.


Ayahku yang melihat pemandangan itu tersenyum dengan bahagia, lalu mengelus kepalaku dengan lembut.


Ikut mendekat, karena melihat ibuku dan aku yang menangis bersama dari sisi yang lain, adikku berteriak, “Ibu, Onii-chan, jangan menangis!” dan mendekati kami, aku tidak tahu apakah itu adalah senang atau lucu----aku hanya tahu bahwa wajahku sudah basah karena air mata dan aku tertawa karena gembira.






***






“---Baiklah. Apa kau masih membuat persiapan, Shido?”


“…….”


“Shido? Apa kau mendengarkanku?”


“……! A-Aah, maaf. Tentu saja.”


Hari kedua diatas jembatan Fraxinus, Shido memegang kepalanya dengan berkata ‘Hah!’ saat Kotori berteriak.


Kotori menghela nafas dalam dan menyipitkan matanya pada Shido.


“Kau ini…… lebih seriuslah. Kau harus sadar siapa orang yang harus kau temui hari ini, ya kan?”


“Guh…..maaf.”


Shido menggantung dalam rasa malunya. Dengan gelisah, Kotori mengerutkan alisnya.


“……Apakah tubuhmu belum pulih sepenuhnya?”


“Ah, bukan itu. Tubuhku baik-baik saja.”


Ternyata, dia membuat Kotori khawatir. Karena diperintahkan untuk ke toko bunga tenaganya serasa menjadi muda lagi, Shido melemaskan tangannya.


Memang benar, karena keributan itu, ingatan Shido setelah mandi menjadi agak kabur dan samar, tetapi efeknya sungguh luar biasa. Sebaliknya, kondisi Shido saat ini jauh lebih baik daripada sebelumnya.


“Hanya saja......Aku mendapat mimpi yang sedikit aneh.”


“Mimpi? Yang seperti apa?”


“Hmm...... untuk semacam alasan, rasanya seperti dari masa lalu, kalau tidak salah....?”


“......Apa maksudnya?”


Kotori kembali menatap Shido dengan heran. Ini sangat tidak bisa dimengerti bahkan membicarakannya dengan diri sendiri saja dia tidak bisa memahaminya dengan baik.


“......Yah, singkatnya, aku baik-baik saja. Aku sudah siap.”


Shido mengelus dadanya. Meskipun ekspresi Kotori mengatakan bahwa dia tidak yakin, dia mengangkat bahunya pada kakaknya yang tidak kompeten.


“Lupakan.----Kau harus bertemu Hoshimiya Mukuro. Dia masihlah Spirit yang belum memiliki rasa sopan santun. Meskipun sikapnya berubah sejak kau melepaskan segel yang ada dihatinya, kau tidak boleh maju sendirian.”


“Aah----Aku tahu.”


Shido mengangguk sambil menatap kebosanan. Tapi, dia telah didorong menuju keambang kematian berkali-kali oleh tangan Mukuro. Semua tindak pencegahan tidaklah berlebihan.


Meski berkata begitu, apa yang saat ini ada didalam pikiran Shido itu bukanlah takut ataupun cemas.


Tepatnya, setelah semua yang Shido lalui, akhirnya dia akan menghadapi Mukuro yang hatinya telah terbuka.


Ketika dia berbicara padanya melalui proyeksi 3D, Shido secara terang-terangan menolak kepalsuannya. Dia bilang segel itu harus dibuang, dan begitu pula dengan teman-temannya; hanya ekspresi tanpa emosi yang dia tunjukkan.


Ketidak ramahannya, ucapan kasar yang pernah menjatuhkan Shido menuju keraguan. Jika dia sendiri ingin menjaga harapan itu, mungkinkah Shido akan dianggap ikut campur?


Bagaimanapun juga, harapan sejatinya, Mukuro yang sudah tidak tersegel untuk bersama semua orang----


“Aku pasti akan membuat Mukuro jatuh cinta padaku.”


Itu benar. Itu adalah harapan Shido.


Saat ini Shido sudah tidak bingung lagi. Seolah-olah untuk memperlihatkan tekad yang baru, Shido mengepalkan tangannya dengan kuat.


Untuk menjawabnya, Kotori, Kanazuki, dan anggota Fraxinus mengganggukkan kepala mereka bersama-sama.


Dengan tekad yang kuat ini, disamping dukungan untuk membantu penyelesaian ini, semua persiapan sudah lengkap. Sekarang adalah kesempatan yang sempurna untuk menaklukkan Spirit.


Jika ada pertanyaan yang tersisa, hanya ada satu yang tersisa.


“......Katakan, Kotori.”


“Ada apa, Shido?”


“......dimana... dimana kita akan bertemu dengan Mukuro?”


“......”


Kata-kata Shido membuat Kotori kehilangan ekspresi yang sama, tanpa berkata dan alisnya mengkerut.


Disetiap kejadian, itu adalah masalah khususnya. Setelah Mukuro membuat janji dengan Shido pada hari sebelumnya, dia langsung menghilang dalam kehampaan; rincian waktu dan tempat pertemuannya tidak disebutkan.


Dengan hanya bilang mau “Besok, ayo berkencan!” tidak ada berita yang mengikutinya setelah itu. Wajahnya penuh dengan penderitaan, Shido memukul dahinya. Dengan keadaan mereka yang sekarang, tidak peduli seberapa kerasnya mereka kemauan mereka, semuanya tidak ada artinya.


“Sangat mungkin dia memiliki alasan untuk kabur... itu tidak bisa disalahkan, ya kan?”


Dibagian bawah jembatan duduklah seorang anggota, [Nail Knoker/Dukun Santet] Shiizaki, yang bilang sambil menggaruk wajahnya. Anggota bagian analisis Murasame Reine menutup kelopak mata kurang tidurnya dan menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


“......Itu tidak mungkin. Jika dia ingin begitu, dia tidak akan muncul dibelakang Shido dan dihari yang lain. Percayalah bahwa kita memiliki semacam hubungan kecil yang bisa digunaan dengan lebih tepat. Lihat, bukankah gerbang yang lain terbuka dibelakang Shin---“


Disaat itu.


Saat Reine bilang begitu, ruang kosong dibelakang Shido berputar sendiri seperti pusaran air, perlahan berubah menjadi gerbang kegelapan, lubangnya terbuka lebar.


“Eh!?”


“I-Inikan......!”


Heran dengan fenomena dramatis itu, Kotori dan para anggota yang lainnya melebarkan mata mereka dan berteriak.


Tetapi dengan suara gesekan seperti ketakutan, hanya suaranya Shido yang tidak tercambur. Tidak---lebih tepatnya, seharusnya koordinat manifestasi dari [gerbang] berada tepat dibelang Shido, sudah sangat terlambat ketika Shido melihat kejadian yang janggal itu.


“Eh----“


Setelah itu, sebelum Shido bisa bereaksi kearah itu, bahunya diraih oleh lengan ramping yang memanjang dari portal itu, lalu menyeretnya kedalam.


“U-uwaaaaaaah!”


“Shido!?”


Semua yang dilihat Shido hanya kegelapan dengan sisa-sisa teriakan Kotori yang tertahan ditelinganya.


Setelah beberapa detik, apa yang terbentang dipenglihatan Shido adalah kejernihan, langit tanpa batas, bersama dengan----


“---Mufufu, masa depan sudah ditentukan dan masa lalu biarlah berlalu, Nushi-sama.”


Hoshimiya Mukuro membungkuk disamping Shido sambil menundukkan kepalanya.


“M-Mukuro......?”


Shido melebarkan matanya dengan bingung sambil memanggil namanya, hanya ada satu orang yang ditanya sambil tersenyum lebar dan menjawab.


“Hn. Apakah engkau masih sakit, Shido?”


“Tidak ada. Dimana ini.......?”


Dengan pelan, Shido berusaha untuk berdiri dan memandang keempat penjuru untuk memastikan sekelilingnya.


“......Ap---“


Sesaat setelah itu, Shido menghentikan nafasnya sejenak.


Itu tidak bisa dihindari, siapapun akan melakukan hal yang sama jika mereka tiba-tiba menemukan dirinya sedang berbaring di jalanan beraspal.


“.......Huh, ada apa dengan kedua anak itu......”


“Apa itu......Cosplay?”


“Hey, apa kau melihat semacam lubang terbuka disini barusan?”


“Na~, Mama----, kenapa Onii-chan itu tidur di jalan?”


Pejalan kaki yang lewat tanpa henti melihat melalui persimpangan jalan.


Jalan yang ada didepan matanya terasa tidak asing. Ini adalah tempat yang tidak asing bagi Shido dan dia sering melaluinya, salah satu sudut dari kota Tenguu.


“......! ini buruk......”


Sekali lagi, Shido teringat. Eksistensi Spirit yang super rahasia dan kekuatan mereka tidak boleh diungkapkan kepada masyarakat umum.


Ini sangat penting, jika pergerakan mereka terlihat terlalu banyak, JSDF AST dan DEM Industries akan menyadari keberadaan mereka. Shido melompat dengan buru-buru dan menarik tangan Mukuro.


“M-Mukuro, kita harus pergi!”


“Kemana?”


“Ikuti saja aku ke suatu tempat yang tidak ada orangnya!”


“Hueh.”


Mukuro mengganggu untuk membalasnya, setelah itu ia bermaksud untuk menggangkat tongkat berbentuk kunci yang sangat besar yang ada ditangannya [Michael].


“B-Berhenti! Apa yang kau lakukan?”


“Hn? Kenapa kita tidak langsung meloncat ketempat yang terpencil saja? Dengan bantuan [Michael].”


“Jangan lakukan itu! Pertama-tama kita harus bersama.”


“Hoh. Sungguh keras kepala.”


Shido membawa Mukuro sambil memegang tangannya menuju gang sempit, agar tidak ada resistensi dari gadis mengikutinya dengan wajah yang ceria itu.


Rasa iri dari para pejalan kaki yang yang ada dijalan memberikan mereka berdua pandangan kesalahpahaman sejak awal, rasa penasaran mereka segera menghilang, dan mereka kembali melakukan rutinitas mereka yang biasa. Meskipun mereka memang penasaran karena ingin tahu kejadiannya, mereka tidak punya maksud untuk melibatkan diri mereka sendiri ke dalam perhatian yang berlebihan. Shido berterima kasih kepada orang-orang di kota atas rasa ketertutupan pribadi mereka pada urusan orang asing dengan rasa syukur mengembang dari lubuk hatinya yang paling dalam.


“Phew...... seharusnya ini sudah lumayan jauh.”


Saaat mereka sampai di gang sepi yang mungkin tidak ada seorangpun yang akan menemukan mereka, Shido akhirnya lega dan bernafas dengan lembut.


Disaat yang bersamaan, suara getaran statis menggema melewati telinga kanannya Shido, dan suaranya Kotori bisa didengar lewat transmisi dari Fraxinus.


“Ahh, nyambung juga......! Shido, semuanya baik-baik saja?”


“A-ah......bisa dibilang begitu.”


Agar tidak terdengar oleh telinga Mukuro, Shido berbisik secara diam-diam untuk menjawabnya. Tepatnya, ia menggunakan earphone untuk berkomunikasi diwaktu yang akan datang jadi dia bisa bersiap-siap untuk mengambil sebuah langkah disaat Mukuro muncul.


“Aku tidak pernah menduga bahwa dia akan menyeret Shido entah dari mana...... aku belum bersiap-siap. Untungnya kami meliliki earphone yang bisa membaca lokasimu. Kau dibawa ketempat yang tidak terlalu jauh, jadi itu sangat membantu. Jika dia membawamu ke sisi lain dunia, mengirim kamera pengintai otomatis itu akan menjadi masalah.”


Kotori menjelaskan sambil mulai bersantai. Mendengar kata-katanya, Shido hanya bisa tersenyum kecut. Faktanya, jika Mukuro menginginkannya, membawa Shido ke tempat yang lebih buruk bukanlah hal yang mustahil. Menemukan dirinya sendiri berada ditempat seperti jalanan bisa dibilang itu keberuntungan meskipun itu sangat mengejutkan.


“Aku punya berita bagus lainnya. Kami buru-buru melihat tingkat kebahagiaan Mukuro----dan hasilnya sudah keluar, tidak seperti sebelumnya, benar-benar besar, kita bisa memastikan tingkat kebahagiaannya sekarang berubah menjadi stabil.”


“Itu artinya......!”


“Benar. Kelihatannya langkahnya Shido untuk melepas segel yang ada dihatinya berbuah sukses. Jika kita melanjutkannya dengan sedikit dorongan tanpa ada rintangan, angkanya sudah cukup untuk proses penyegelannya.”


“Begitu ya----luar biasa.”


Saat Shido dan Kotori masih ngobrol satu sama lain, Mukuro menyentuh wajah Shido dengan bingung, wajahnya dihiasi dengan ketidak mengertian.


“----Ocehan apa yang engkau bicarakan?”


“Waa! A-ahh... ... maaf.”


Bahu Shido sedikit gemetar saat dia berbalik kearah Mukuro. Dia mengangguk dengan puas dan melanjutkan.


“tolong jelaskan, seberapa tinggi Nushi-sama ingin meningkatkan kebahagiaan Muku?”


“Ini, eh......ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, tapi... ...”


“Lalu bebaskan dirimu dari hal-hal itu. Tidak usah macam-macam, kamu.”


Sambil membimbing Shido, Mukuro mengambil langkah pertama.


Tapi sialnya, kakinya tersandung oleh rambutnya yang panjang, sampai nyaris terguling.


“Hn... ...?”


“Uh, apa kau baik-baik saja?”


“Muku sudah lama melupakan cara berjalan. Huh... ...ada banyak debu.”


Mukuro dengan lembut mengangkat rambutnya, membersihkan kotoran itu.


Tentu saja, lingkungan ini tidak ada mirip-miripnya dengan luar angkasa dimana Mukuro telah menghabiskan waktu yang terasa seperti selamanya. Ini adalah bumi. Ini adalah dunia dimana semua orang yang berada ditanah terpenjara oleh medan gravitasi. Meskipun rambutnya Mukuro telah diikat dengan gaya dango-nya, karena saking panjangnya benar-benar membuatnya merasa berat saat berjalan.


“Kemanapun kita pergi, pertama kita harus menyelesaikan masalah rambutmu.---- begini, Mukuro, bisakah kau memotong rambutmu menjadi lebih pendek----“


“----Tidak mungkin.”


Yah, begitulah.


Saat Shido memintanya, ekspresi matanya Mukuro yang tajam dengan tegas menjawabnya.


“Memotong rambutku adalah hal yang terlarang. Mau itu perintah Nushi-sama atau siapapun, aku tidak mau.”


“... ...Eh!?”


Saat Mukuro bereaksi, bahunya Shido tidak bisa menahan gemetarnya.


Itu bisa dimengerti. Selain itu, Mukura berada dalam suasana yang riang gembira sampai sekarang, tapi suasana hatinya telah menyebar seperti agresi yang terkonsentrasi didetik berikutnya.


Kemudian sirine alarm bergema ditelinga Shido; alarm ini sangat akrab baginya. Ini adalah tanda---- memburuknya suasana hati seorang Spirit.


“Shido! Lakukan hal yang lembut dengan cepat!”


Kotori berteriak dengan gejolak.


Setelah beberapa detik berlalu, saat ini Shido berada diangka enam dan tujuh untuk menghadapi kebahagiaan Mukuro yang menukik tajam, gadis itu juga memperlihatkan perubahan cara berbicara menjadi agak sedih dan dilanjutkan dengan sedikit jeda.


“... ...Salahmu. walaupun sebabnya berkabut... ...tetap, Muku bersumpah untuk melakukannya.”


Saat ini, suara alarmnya sudah berhenti berbunyi di telinganya. Shido menghembuskan nafas dalam.


“B-Begitu ya. Akulah yang seharusnya minta maaf.”


Saat dia meminta maaf, mengarahkan pandangannya pada rambutnya Mukuro. Itu adalah kepala yang lembut nan elegan, dengan untaian rambut berwarna emas. Fakta ini sangat jelas baginya saat ia sadar kenapa itu adalah harta yang sangat berharga. Ada pepatah yang mengatakan bahwa rambut seseorang adalah hidupnya; Shido memikirkan tentang orang yang membuat pepatah bijaksana tersebut.


Jadi begitulah, itu dilakukan untuk tidak membiarkan setiap jengkal rambutnya menjadi kotor. Shido mengintip kulitnya Mukuri sambil menyarankan dengan taut dan gemetar.


“Tapi tetap saja itu menyulitkan jika masih dibiarkan. Bagaimana jika... ... rambutmu diikat saja? Apa kau tidak suka?”


“Hueh.”


Mukuro membelai rambutnya dengan lembut, sambil menggelengkan kepalanya.


“... ...Tidak, tidak masalah jika begitu. Jadi bagaimana?”


“Jadi----“


Saat Shido memikirkan sesuatu, earphone yang ada di tlingan kanannya mulai mengirimkan suaranya Kotori.


“----Shido, pilihannya disini.”


Tiga pilihan sudah ditampilkan di monitor utama Fraxinus.


Pergilah ke ahli tata rias rambut untuk mendapatkan bantuan profesional.


Suruh Shido mengikatnya dengan cantik.


Topang rambut Mukuro dari belakang seperti mengangkat gaun pengantin, sekali-kali eluslah dan jilati dia.


“----Semuanya, tentukan pilihan kalian!”


Saat Kotori memberi perintah, semua anggota yang berada dibawah jembatan dengan cepat mengoprasikan konsol masing-masing, memilih pilihan yang mereka anggap paling baik.


Tidak lama setelah itu, hasil dari votingnya sudah dirilis.


“Opsi 2 mendapat suara mayoritas, diikuti opsi 1, huh. Satu-satunya orang yang memilih opsi 3 adalah... ...”


“Benar, itu adalah aku!”


Setelah Kotori bertanya, orang yang menunggu dibelakang kursi kapten, Kannazuki, mencengkram tangannya dengan penuh semangat dan menjawabnya dengan sepenuh tenaga.


“Aku suka dengan bawahan yang terbuka, sebagai hadiahnya, aku akan mengizinkanmu untuk duduk dikursi pesawat selama 30 menit.”


“Eh! Aku boleh!?”


Setelah mendengar kata-kata Kotori, Kannazuki mengeluarkan ekspresi gembira, sekali-kali dia melompat lalu setelah itu dia menurunkan tubuhnya dan melengkungkan lututnya menjadi sikap kuda 90 derajat sempurna. Melihatnya mempermalukan dirinya sendiri, membuat semua anggota tertawa satu persatu.


“Benar-benar, terkadang aku heran apa yang ada dikepalamu. ----ngomong-ngomong, Maria.”


Kotori memanggil namanya, dilayar monitor menampilkan rangkaian teks ‘MARIA’, dan speaker itu menyiarkan suara AI-nya Fraxinus, Maria.


“Diantara pilihan itu, yang mana yang akan kau pilih?”


“Pertama, terlepas dari bagaimana kepribadian dan proses pemikiran AI didefinisikan, setiap pilihan berasal dari statistik individu dari para Spirit serta data up-to-date dari mereka, bukan dari pengetahuanku sendiri.---- meskipun aku bisa menjelaskan alasan dibalik setiap pilihan.”


“... ...Aah, aku mengerti. Aku selalu tahu bahwa ada pilihan yang sangat beresiko setiap saat. Apa kau memiliki garis besar tentang itu?”


“Tepat. Jika analisis yang sangat komperhensif harus dilakukan pada pola ini, semua opsi ini merupakan emosi dari para Spirit sebagai dasar dari tiga prinsip tersebut: ‘Favorit Umum’, ’Oposisi’, dan ‘Kuda Hitam’.”


“Kuda Hitam katamu... ...”


Pengenalan mendadak dari istilah dipacuan kuda membuatnya bingung. pertemuan dengan metode itu ditandai dengan nada yang berlebihan, Kotori tidak bisa melakukan apa-apa selain membuat senyuman kecut.


“Ya. Jika tren itu identik, tidak ada alasan untuk membuat opsi itu.”


“Benar, aku tidak pernah bilang bahwa itu tidak komperhensif, dan memilih pilihan yang belum pasti tidaklah memiliki manfaat... ...tapi tidak semua terasa menjijikan.”


“Tidak ada masalah. Meskipun jika pilihan pertama gagal, kita bertaruh sepuluh kali lipat untuk mendapatkan modal yang cukup untuk memastikan keuntungan.”


“Kubilang, apakah ada beberapa orang brengsek yang mengeksploitasi kemampuan kalkulasi Maria untuk memprediksi hasil pacuan kuda!?”


Ini pasti hasil dari pelajaran yang tidak diperlukan. Kotori berada diambang ledakan karena marah, berteriak dari bagian atas paru-parunya.


Tampaknya dia tahu bahwa ada beberapa anggota yang menjadi sedikit gemetar; apakah itu murni karena takut dengan amarahnya komandan atau ulah rahasia nan gelap mereka sekarang menjadi terang benderang, hal ini tetap harus diselidiki secara mendalam. ... ...Kotori berjanji dalam dirinya bahwa dia benar-benar akan memeriksa catatan manajemen.


Selama itu, penguat audio yang menyalurkan suara berdering dari speaker mengetuk ringan, menunjukkan bahwa Shido bertanya tentang solusi yang harus dilakukannya.


“Aah, maaf soal itu. Nomor 2, Shido. Kuakui menyerahkannya pada seorang profesional tidaklah terlalu buruk, mengingat bahwa dia masihlah Spirit yang belum tersegel, menyerahkan urusan itu padamu secara pribadi menjadi pilihan terbaik.”


Mendengarkan dengan seksama, Shido mengangguk paham dengan adegan yang ditampilkan di layar monitor.


“----Jadi, Mukuro, maukah kau datang ke rumahku sebentar? Disana ada sisir dan penjepit rambut.”


“Rumahnya Nushi-sama?”


Shido menanggapinya sesuai dengan arahan dari Fraxinus, dia mendapatkan tatapan tak terduga dari Mukuro.


“Hueh. Menarik. Baiklah, tempat tinggalnya Nushi-sama. Ayo kita berangkat.”


“Haha... ... aku merasa terhormat.”


Shido mengangkat bahunya, menundukkan kepalanya dengan hormat. Untuk semacam alasan, ia merasa seperti seorang pelayan tingkat rendah ataupun seorang petugas ketika ia berbicara dengan Mukuro, cukup bertentangan dengan jaman dulu.


“Hahahah, sekarang bagaimana, Nushi-sama? Gaya bicaramu cukup menghibur.”


“... ...O-ooh.”


Apa ia sadar bahwa nada bicaranya berubah, Mukuro bertanya dengan wajah penuh kepuasan. Shido menggaruk pipinya sembil memaksakan untuk tersenyum.


“Jadi... ...begitulah, tapi bagaimana kita bisa mencapai rumah...”


Shido berdiri diantara dua bengunan tinggi sambil memata-matai jalan utama dan merenung. Untungnya, ini adalah kota Tenguu. Kurang lebih 20 menit cukup untuk mencapai rumahnya Shido dengan berjalan kaki. Namun, berjalan dijalanan dengan seorang gadis yang mencolok glamor membuat tingkat kesulitannya meningkat berkali-kali lipat.


Anak itu terlihat jengkel, Mukuro memiringkan kepalanya dengan canggung.


“Kemarahanmu itu sia-sia. Hanya pulang saja kan.”


“Um, begitulah... ...”


Omongan Shido tidak berubah. Mukuro mengangkat tangannya keatas bahunya, menggunakan tangannya yang lain untuk menusukkan tongkatnya ke udara kosong, alu terdengar bunyi klik seperti terpelintir.


“[Michael]----[Unlock].”


Beberapa detik kebudian, terbuka gerbang yang cukup lebar untuk satu orang pada satu waktu.


“Ap... ...”


Shido tercengang, namun Mukuro hanya bersikap biasa saja tanpa ragu-ragu. Setelah itu, ia menjulurkan tangannya kearah luar gerbang dengan bergelombang pada Shido seakan memberi salam padanya.


“H-Hey!”


“Shido, ikuti saja dia! Kamera pengintai otomatis akan mengikutimu!”


Kotori memberi instruksi lewat earphone. Shido menggaruk kepalanya, merenggangkan pinggangnya untuk masuk kedalam gerbang.


Pandangannya tentang dunia menghitam dalam sekejap, dan setelah itu, rumah berinterior bedizen* yang sangat akrab dengannnya bersama dengan Mukuro, dia terlihat penasaran dengan melirik kaman-mana, penglihatan Shido melemah. Pada saat yang sama ia menyelinap melewati gerbang, ia mulai meributkan kontraksinya sampai akhirnya gerbang itu runtuh dengan sendirinya dan tersebar dengan tipis diudara.






[Note : Bedizen : semacam dekorasi interior, untuk lebih jelasnya tanya aja sama mbah google]


“Hueh, apa kediaman Nushi-sama itu disini? Benar-benar seni.”


“Mukuro... ...”


“Un? Apa?”


“... ...Tidak ada. Terus terang, kau sangat membantu. Hanya saja, bisakah kau berhenti menggunakan Angel-mu di depan publik?”


Mengarahkan telinganya pada Shido, Mukuro meliriknya dengan bingung untuk sesaat, dia hanya mengangguk kemudian berkata ‘Ya, baiklah.’ Dan mengembalikan [Michael] menuju kehampaan.


“Jadi, Nushi-sama. Setelah ini apa?”


Shido mengarahkan Mukuro kearah cermin.


“Sini, Mukuro. Duduklah.”


“Hn.”


Mukuro dengan patuh duduk diatas kursi bulat. Kemudia Shido membuka ikatan rambut dango-nya, ia mengambil sisir, dan merapikan rambut emasnya dengan hati-hati.


“... ...Hueh.”


Pada saat itu, tubuh Mukuro bergetar, yang membuat tangan Shido yang tengah menyisir menjadi beku.


“Ah, maaf. Apakah itu sakit?”


“Itu hanyalah sedikit tusukan. Jangan diambil hati dan lakukan lagi.”


Ketika Shido bertanya, Mukuro menggelengkan kepalanya seolah ia ingin lebih. Shido, kemudian memperhitungkan gerakannya agar terlihat lucu, tersenyum kecut dan terus menyisir rambutnya.


“Jadi... ...apa gaya rambut yang kau inginkan? Aku bisa mengikatnya menjadi ponytail, atau mungkin twintail akan cocok denganmu. Ada permintaan?”


“Hueh... ...satu saja sudah cukup untuk mencegah kekacauan.”


Shido mengerutkan alisnya sambil mendesah, menata rambutnya Mukuro menjadi gaya dango yang sebelumnya sekali lagi. Sebelum ia mengetahuinya, ia percaya gaya rambut ini adalah ciri eksentriknya Mukuro.


Setelah itu, Shido menganyam ikatan rambutnya yang tersisa menjadi tiga kepang.


Meskipun itu adalah tugas kompleks yang mengharuskan penguasaan dan keahlian, untuk Shido yang sering membantu Kotori saat mengurus rambutnya berkali-kali, itu adalah tugas rutin dan bagian dari pekerjaan sehari-harinya. Tidak lama setelah itu, rambut emas Mukuro telah dikepang menjadi ponytail dengan terampil dan menawan.


“Hohoh! Pengerjaan yang sangat indah!”


“Aku takut aku tidak pantas mendapat pujian itu.”


Shido menunduk dengan hormat, lalu melanjutkannya dengan ‘Tetapi’.


“Meski begitu, panjangnya tidak banyak berubah. Apakah masih sulit digunakan berjalan?”


“Tidak usah takut. Lihat, Nushi-sama.”


Mukuro menjawab dengan singkat, kemudian memutar kepalanya deperti seorang penyanyi dan penari. Rambutnya dengan alami mengikuti gerakannya dan melilit bagian belakang lehernya. Jadi begitulah. Kekhawatiran tentang masalah panjang rambutnya sekarang sudah terpecahkan.


Disaat itu, musik yang menenangkan hati datang dari earphone yang ada ditelinga kanannya Shido.


“---Jadi, Shido. Tingkat kebahagiaannya telah berhasil dinaikkan beberapa tingkat itu membuat beberapa pembacaan sebelumnya terlihat tidak manusiawi. Ku kira trik kecil sudah tidak diperlukan lagi. Terus taklukkan dia dengan taktik yang nyata. Masalah rambutnya sudah diatasi, jadi bagaimana dengan pergi jalan-jalan?”


“Dimengerti... ...uh.”


Shido membalasnya dengan suara rendah, sambil mengukur penampilan Mukuro secara bersamaan.---- sebuah Astral Dress yang menggambarkan rasi bintang; pakaiannya benar-benar akan menarik banyak perhatian dari orang yang menontonnya.


“Ah... ...Benar.----Kotori, aku pinjam beberapa pakaianmu.”


“Eh? Ahh, apa-apaan itu. Terserah.”


Kotori merasakan niatnya Shido dan memberikan persetujuan. Setelah Shido memilih dengan teliti pakaian apa yang cocok untuknya dari kamarnya Kotori, ia kembali kesisi Mukuro.


“Mukuro, Kita akan pergi keluar untuk jalan-jalan setelah ini, tapi Astral Dress-mu itu terlalu mencolok, jadi ubahlah menjadi ini sebagai gantinya----“


“Oh, baiklah.”


Mukuro membalas suaranya Shido, meninggalkan kursi lalu menepuk tangannya.


Seketika, Astral Dress yang dipakai ditubuhnya Mukuro berubah menjadi partikel cahaya yang larut diudara, sedangkan tubuh telanjang pemakainya yang seputih salju itu diperlihatkan secara terang-terangan. Karena pakaiannya telah menghilang itu membuat oppai-nya terlihat juga, mereka berayun seperti balon air.









Bagaimanapun juga.


“... ...hueh?”


Ketika dia mencoba untuk mengancing blus ini, Mukuro mengerutkan alisnya. Ternyata besar dan ukurannya tidak sesuai dengan tubuhnya.


“Nushi-sama, pakaian ini tidak muat. Oppaiku sakit.”


“... ...”


Mukuro menyatakannya dengan nada sedih, suara keheningan bisa terdengar dikirim ke earphone ditelinga kanannya. Meskipun frase ‘suara keheningan’ tampaknya sedikit tidak lazim, sejujurnya, itu persis seperti yang terdengar. Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, rasanya Kotori saat ini sedang menahan emosinya yang tidak bisa ia katakan dengan segenap kekuatannya.


“Tidak, seperti yang kubilang... ...itu bukanlah pakaian yang biasanya kau pakai, bukankah Spirit bisa menduplikat sesuatu dengan kekuatan spiritual mereka hanya dengan melihatnya sekali?”


“Ooh, begitu ya.”


Shido membalikkan tubuhnya sebelum Mukuro melepaskan pakaiannya dan menempatkannya disisi yang lain dengan tepuk tangan.


Kemudian tubuhnya Mukuro memancarkan cahaya yang bersinar lalu secara bertahap membentuk pakaian. Dengan kibasan, desainnya sama dengan milik Kotori---- aspek dimensinya disesuaikan agar cocok dengan proporsi tubuh Mukuro.


“Hn. Jauh lebih nyaman.”


Mukuro merasa sangat puas, tersenyum dengan ceria. Lalu, suara jengkel terdengar dari earphonenya.


“... ...Huh? bukankah dia seharusnya melakukan hal itu sejak awal? Mengapa dia harus memakainya? Huh?”


“A-ahaha... ...yah, jadi, ayo kita pergi, Mukuro.”


“Hn. Ayo.”


Shido memaksakan senyumnya sambil mempercepat jalannya, sedangkan Mukuro mengiyakannya dengan anggukan tegas.


Setelah itu, dia mengulurkan tangannya dengan ‘Muu’, yang membuatnya terlihat seperti Ojou-sama yang bermimpi memiliki pelayan pribadinya sendiri.


“Inikan... ...”


Shido kehabisan akal untuk sejenak, kemudian memegang tangannya Mukuro dengan lembut sepersi seorang Butler.


“Bisakah kita berangkat, Ojou-sama?”


“Hn, hehe.”


Mukuro berseri-seri dengan gembira.


Mampu membuatnya bahagia itu tidak terlalu buruk. Jadi, Shido bergandengan tangan dengan Mukuro, keluar dari kediaman Itsuka dan berjalan menuju jalan utama.






***






----Kira-kira enam jam telah berlalu sejak saat itu. Shido telah membawa Mukuro berjalan-jalan menyusuri kota Tenguu dibawah arahan Ratatoskr.


Agenda kencan ini benar-benar seperti raja. Mereka telah melewati banyak jalan, masuk kesetiap toko mewah yang menarik, makan-makan, dan pergi ke sebuah galeri seni yang menarik perhatian Mukuro ----itu adalah rutenya.


Pilihan yang bijak, Shido tahu bahwa Mukuro suka tempat yang meriah, lokasi yang ramai, masakan jepang hingga masakan barat, dan ornamen klasik hingga aksesoris modern. Ketika ditanya apakah ia ingin sesuatu dari toko perhiasan, Shido terkejut, dia menunjuk sebuah kipas berlapis emas yang dipajang di sebuah rumah antik di seberang jalan. sekilas meskipun berpenampilan seperti anak-anak, seleranya cukup sederhana dan kedesa-desaan.


Dengan demikian, jam telah menunjuk pukul tujuh malam. Awal senja matahari terbenam dimusim dingin telah menghilang dari pemandangan jalanan, dan dan tirai kegelapan sudah memenuhi cakrawala.


Shido dan Mukuro yang merasa puas dengan semua yang terjadi dikencan ini sekarang mereka duduk bahu-membahu dalam kenyamanan bangku taman yang sepi. Mukuro sudah berkembang lebih dari yang sebelumnya, kipas berhiaskan emas membuatnya bahagia sambil menyanyikan sebuah lagu.


“---Tidak buruk. Hari ini, Mukuro telah membuka pintu hatinya untuk Shido. Dia hanya butuh satu langkah lagi untuk menyegelnya sekarang. Sungguh ironis berapa banyak energi yang kita habiskan sebelumnya.---jangan lengah dan maju terus sampai akhir.”


“A-Aah... ...”


Shido melirik Mukuro yang benar-benar bahagia, menganggukkan kepalanya dengan sedikit ragu.


Kotori memperhatikan ekspresinya saat ia bertanya dengan ragu.


“Ada yang salah?”


“Tidak ada... ...seperti yang kau bilang. Mukuro sangat bahagia, dan kita bisa menyegelnya jika tingkat kebahagiaannya sudah mencukupi dan suasana hatinya tetap meningkat seperti ini... ...tapi aku hanya sedikit terganggu.”


“Oleh apa?”


“Un... ...kenapa Mukuro menyegel hatinya sendiri dan tinggal diruang angkasa sendirian... ...begitu.”


Poin itu selalu berada dipikirannya.


Saat ini Mukuro memang penuh dengan kebahagiaan, dan dilihat dari kata-kata Kotori, tingkat kebahagiaannya terus meningkat hingga saat ini. Bahkan, melalui interaksi mereka hari ini, tidak ada satupun kecelakaan yang terjadi. Bisa dikatakan penampilan Mukuro hanya terlihat seperti malaikat kecil dibanding dengan semua tipe Spirit.


Bagaimanapun juga, itu bukanlah kenyataannya.


Alasannya adalah kenapa dia menyegel hatinya dan jiwanya benar-benar tidak bisa diduga.


Keadaan itu tidak bisa dirasakan; tidak bisa dipercaya; tidak bisa dipikirkan.


Apa ada yang bisa memaksanya untuk memutuskan setiap hubungannya dengan dunia, memilih batu yang melayang tanpa henti di seluruh angkasa?


Shido tidak bisa melakukan apapun selain berpikir bahwa ada yang lebih dari sekedar bertatap mata mengenai Mukuro, wajahnya saat ini belum pernah dia lihat sebelumnya.


“Itu... ...benar. bagaimanapun juga, seseorang paling penting bukanlah Mukuro yang sebelumnya, tapi Mukuro yang sekarang ini, ya kan? Tidak ada alasan untuk tidak menyegel kekuatan Spirit-nya.”


“Ahh... ...baiklah.”


“---Hehehe.”


Saat dia berdiskusi dengan Kotori, tawa Mukuro datang dari sisinya Shido dengan tiba-tiba.


“Saat ini Nushi-sama seperti yang sudah diramalkan. Hari ini Muku benar-benar bahagia.”


“Haha... ...Aku hanya bahagia kau menyukainya.”


“Hueh. Syukurlah. Kekosongan hatiku yang berkepanjangan ini sungguh telah berubah Muku merasa menikmati kehidupan ini. Justru itu, cerminkan kembali, janji kesetiaanmu pada Muku, Nusshi-sama----“


Saat dia berkata demikian, wajahnya Mukuro menjadi tegas. Shido berpikir rasa kesalnya sudah dilihat, mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk mengelak dari tatapannya.


“Eh? A-Ada masalah?”


“----Apakah Nushi-sama mencintai Muku?”


Lalu, Mukuro memperlihatkan senyuman nakal sambil bertanya, kata-kata imut yang melebihi perkiraan Shido. Shido hanya bisa tertawa kecil ‘Ahaha’.


“... ...Ahh, aku mencintaimu Mukuro, dan aku ingin melindungimu.”


“Ehehe, jadi, jadi. Nushi-sama mencintai Muku. Ehehe.”


Mukuro menyembunyikan bibirnya dengan kipasnya, mengayun-ayunkan kakinya karena rasa bahagia yang tak tertahankan.


Dia lalu bersandar kedepan, memandang wajahnya Shido secara terus-menerus, dan dengan lembut menggerakkan bibir merahnya.


“---Muku juga mencintai Nushi-sama. Hatinya Muku akan selalu bersandar padamu, Shido.”


“... ...!Ah, benarkah... ...”


Shido memaksa menahan nafasnya. Bagaimana dia bisa mengaturnya; meskipun memiliki tubuh yang kecil, tiba-tiba ekspresinya sangat mempesona.


“Jawabanmu bisa diperbaiki. ... ...Tolong katakan sekali lagi.”


“Eh? Aah---Aku-Aku mencintaimu, Mukuro.”


Shido membalasnya dibawah desakan Mukuro yang terlihat membuat senyuman bahagia.


“Ehehe. Mengeluarkan isi hati sampai seperti ini patut dipuji.---Tentu saja. Nasehat Nushi-sama saat di luar angkasa, harus Muku ingat.”


“Benarkah!?”


“Un. Ya, mengesampingkan ketegangan saat tidak ada kekuatan Spirit ... ...menghadiahi Muku dengan perlindungan dari Nushi-sama, tidaklah buruk.”


Mukuro menggoyangkan jarinya saat ia menyatakannya. Shido merasa seperti ada benang yang terus menerus mengikat hatinya dengan kencang lalu dikendurkan tanpa peringatan.


Masa lalu Mukuro memang salah satu yang membuat orang lain ingin melihatnya. Namun, seperti yang dikatakan Kotori, Mukuro yang sekarang jauh lebih penting. Jika dia bersedia menerima penyegelan, itu akan menjadi hasil yang terbaik.


Tapi saat Shido menghembuskan nafasa karena lega, Mukuro kembali berbicara dengan riang.


“---Satu hal lagi, meskipun kau pergi tanpa berkata apa-apa? Berjanjilah, Nushi-sama, saat membuat ikatan dengan Muku, kau tidak boleh bersama dengan gadismu yang dulu.”


“Aah, Aku menger---Eh?”


Dan mengesampingkan suasana disekitarnya, saat ia mengangguk lalu membalasnya... ...Shido memiringkan kepalanya saat berada ditengah jalan.


“Eh? K-Kenapa?”


“Apa itu terlalu berlebihan? Jadi sudah ditetapkan. Nushi-sama mencintai Muku atau tidak? Lagi pula Muku mencintai Nushi-sama. Jika itu benar, Nushi-sama akan dengan senang hati melakukan segalanya untuk Muku. Meskipun, ada banyak wanita yang melangkah diantara kita, bukankah itu tidak terlalu berlebihan?”


Mukuro mengatakannya dengan nada yang paling alami.


Sebaliknya, kenyataannya, dia sendiri berpikir bahwa itu sangat alami; dan Shido tidak boleh tinggal diam.


Namun jika berpikir demikian, jika diulang lagi, akan berubah menjadi tidak ada bedanya dengan hubungan pernikahan----untuk Shido yang bertugas menyegel kekuatan dari setiap Spirit yang muncul di dunia, itu adalah pukulan fatal.


“Hm? Apakah Muku membicarakan sesuatu yang tidak sopan?”


“... ...tidak, soal itu, yang ingin kukatakan adalah... ...”


Menatap mata Mukuro yang sebening kristal, Shido menjadi pusing saat melihatnya. Tidak ada cara lain mengingat fakta bahwa hanya Shido yang memiliki kemampuan untuk menyegel kekuatan Spirit. Dengan kata lain, itu juga terukir dalam diri Shido seberapa besar ketidak bertanggung jawabannya terhadap para Spirit.


“Tunggu, Shido, bagaimana bisa kau berkata begitu?”


“Maaf... ...hati nuraniku menderita karena sedikit kecaman.”


“Lakukan itu nanti saja.---intinya, tidak mungkin kau bisa melakukan hal semacam itu. Bahkan jiak kau berbohong dan melakukan penyegelan, hal yang buruk akan terjadi jika dia tahu... ...jelaskan padanya dengan benar bahwa penyegelan itu hal yang berbeda dengan pernikahan. Kita harus melangkah dari rute ini.”


“... ...Benar.”


Shido mengangguk sedikit dan secara bertahap mengatur nafasnya, lalu menghadapi Mukuro lagi.


“Um, Mukuro. Tolong dengarkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaan itu.”


“Mnn? Kau mengkhianati cintaku.”


“... ... ... ...”


“Jangan merasa terhina dengan ucapan sepele.”


Kotori menegur kakaknya yang tidak berdaya. Dalam rangka untuk bertindak cepat dengan menyorakinya, Shido batuk beberapa kali untuk membersihkan tenggorokannya sebelum melanjutkan.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku, aku ingin menyelamatkan semua Spirit. Jadi... ...jika ada Spirit sepertimu lagi yang muncul dimasa yang akan datang, aku harus menyegelnya. Dan----semua Spirit yang sudah kusegel sampai sekarang, aku mencintai mereka sebanyak aku mencintaimu, Mukuro. Aku akan sangat senang jika kau bisa bersama dengan mereka.”


“... ...Hueh.”


Mendengar kata-kata Shido yang tulus, Mukuro merasa bingung untuk sesaat.


Seteleh beberapa saat berlalu, dia menepuk tangannya seolah-olah ada sesuatu yang terlintas dipikirannya.


“Jadi, itulah penderitaanmu. Nushi-sama benar-benar baik.”


“Eh?”


Tidak mampu untuk mengerti dengan benar arti dari pernyataan Mukuro, Shido melebarkan matanya. Bagaimanapun juga, Mukuro menundukkan kepalanya meskipun dia mengerti kesulitan lelaki itu.


“Muku akan mempertimbangkannya lagi. Nushi-sama tidak boleh menolak. Cukup percayakan semuanya pada Muku.”


Mukuro selesai dan berdiri dari bangku taman, melipat kipas berhias nan indah itu dan menyangga dagunya.


“---Yah, jadi, kita harus menyudahi malam kita dengan kesana kemari. Bisakah kita bertemu lagi, Nushi-sama.”


Sambil membelakanginya ia meninggalkan kata-kata itu, Mukuro melangkah kedepan menuju jalan kecil yang agak redup.


“Tunggu, Mukuro!?”


Shido mencoba untuk berlari dalam keadaan gugup, tapi itu tidak berguna karena Mukuro sudah menggunakan [Michael] di rute itu, sosok mungilnya menghilang dari pandangan.


“Sebenarnya... ...apa yang dia rencanakan?”


Melangkah melewati jalanan yang diterangi oleh lampu jalanan disaat senja dan kebahagiaan terselubung yang tersembunyi dibalik maksud perkataan puitis Mukuro, wajahnya Shido terlihat seperti bayangan kabur yang tidak menentu.
Facebook Twitter Google+