Bab 5 – Penyerangan, Kelompok Pureblood. | YuukiNovel

Bab 5 – Penyerangan, Kelompok Pureblood.

Lebih dari seminggu telah berlalu sejak dia mendaftar di Akademi Sihir.

Pada awalnya dia menjalaninya dengan prasaan tidak nyaman, dia dibingungkan oleh tempat yang menakjubkan yang bernama Akademi Sihir, tapi Takeru terus membiasakan dirinya.

Meskipun ia tetap tidak mengerti pelajaranya, tetap saja, hidup di tempat ini tidaklah terlalu buruk bagi Takeru. Pada dasarnya, orang-orang dari Sisi Timur sangat ramah pada Takeru yang tidak memiliki energi sihir dalam dirinya. Meskipun dia berkata demikian, Tapi itu lebih merupakan masalah kebanggaan karena mereka benar, mereka masih memiliki hubungan dengan siapapun juga.

Sudah jelas bahwa lingkungan di sini lebih baik daripada di tempat lain.



“Kusanagi~, apa kau mau pergi ke toko yang baru di buka bersama kami untuk mencari barang sihir?”



Setelah pulang sekolah, satu dari dua orang siswa laki-laki memanggil Takeru dengan mood yang bagus.

Takeru mengangkat wajahnya yang ada di balik tasnya.



“Eh…mereka menjual barang-barang sihir?!”



“oh, jadi kau tidak bisa pergi keluar? Nah, datang saja, mereka hanya berurusan dengan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan, tapi ada banyak sekali penggunaan aneh, jadi sangat menarik.”



Respon Takeru yang begitu terkejut, sementara itu siswa yang satunya tertawa.



“Hmph, kelompok dari luar tidak bisa mengerti betapa hebatnya sihir itu. Nikaido-san menjadi pengecualian. Hei, Kusanagi, kalaupun kamu datang, tidak ada hal yang menarik. Sebaliknya, itu tidak akan menarik bagi ku jadi jangan datang.”



Dengan kata-kata yang tajam, dia berbicara terus terang dan mengangkat tangannya.



“Jangan berpikiran buruk tentangnya. Dia memang sulit dimengerti, tapi dia bukan orang yang jahat. Faktanya, dia jatuh cinta pada Nikaido-san yang datang dari luar pada pandangan pertama, dan ketika kau, pacarnya muncul dan dia perlahan mulai cemburu.”

“K-kk-kau! Aku sudah mengatakannya untuk tidakk----jangan salah paham Kusanagi! Aku masih belum menyerah pada Nikaido-san! Gadis cantik yang memiliki "Aurora" mulia ini tidak cocok untuk pria berkepala tebal sepertimu!”



Melihat air mata muncul di mata siswa yang tersipu malu, Takeru tersenyum masam.



“Tidak…aku bukanlah pacarnya.”



“Kesampingkan orang idiot ini...bagaimana, kau akan datang? Selain tongkat sihir, mereka juga menjual dengan pedang tajam”



Ketika dia mendengar hal itu, warna mata Takeru mulai berubah.



“-----------Yang benar saja?!”



“Y-Ya. Ada apa dengan semangatmu itu, tak terduga…di dunia dalam ada banyak pembuat pedang sihir. Bahkan sekarang ada sebuah mahakarya dengan prasasti telah terlahir.”



“Apakah disana ada jenis Katana?! Pedang Jepang!”



“Ya, mereka cukup populer. Proses manufaktur pedang Jepang memberi penekanan besar pada air, jadi mereka tampaknya menikmati keajaibanya dengan baik. Mereka sangat dihormatinya di zaman modern ini.”



“…..Bagus! aku ikut!”



Takeru mengepalkan tangan nya dan mencoba berkata “Aku harus pergi kesana!”

Namun, tiba-tiba kain di siku kirinya ditarik dan dia melihat ke samping.

Kesampingkan wajah yang tanpa expresinya, Lapis di selimuti oleh aura yang sangat gelap.



<”…Selingkuh?”>

Suara yang cukup mengintimidasi cukup untuk memberikan rasa dingin bergema di kepalanya.

Dengan rasa gugup di wajahnya Takeru dengan sopan menolak undangan keduanya. Tentu saja, kedua siswa tersebut juga memperhatikan aura Lapis dan pergi dengan sabil berkata "Mungkin di lain waktu”.

Setelah mencoba menjaga jarak dengan Takeru untuk beberapa waktu. Lapis sekarang benar-benar terpaku padanya. Kursi diletakkan tepat di sebelahnya, dan menempel, dia tidak akan melepaskan lengannya bahkan sedetik pun.



“Aku sudah bilang padamu untuk tetap bersama ku….tapi bukankah ini terlalu dekat?”



“kau tidak menginginkan ku?”



“Itu tidak seperti aku tidak menginginkan mu…”



“Jadi, bukankah ini baik-baik saja.”



Meskipun ia senang tentang itu, disana terdapat sedikit masalah dengan yang terlihat.

Para siswa di sekitarnya menjauh “Bukankah aura merah muda itu datang dari sana” atau “Mereka seperti itu sepanjang malam?”, tebakan yang sangat sulit untuk di klarifikasi sebagai sesuatu yang serius atau ironis tengah melayang-layang disana.

Dia tak merasakan hal yang buruk, mungkin saja kenyamanan ini akan terus berlanjut.

Tersenyum masam sambil menggaruk pipinya dengan satu jari, sebuah pertanyaan sederhana telah sampai ke kepalanya.



“…Beritahu aku, kenapa kau memilihku?”



“?”



“Maksudku, kenapa kau memilihku sebagai Kontraktor pada awalnya, Seharusnya ada suatu prosedur untuk membuat kontak dengan Realic Eater tingkat tinggi…seperti meningkatkat kertertarikan mu atau apalah itu. Itulah yang telah ku dengar ketika datang ke tempat ini.”



“Jadi itu maksudmu. Alasan nya sederhana. Pertama, fisikmu, otot-ototmu begitu unik dan telapak tanganmu yang memungkinkan ku untuk menilai bagaimana hebatnya dirimu dalam ilmu pedang. Dan sebagai tambahan, aku sudah mengatakan sebelumnya karena kau berasal dari Keluarga Kusanagi.”



“oh, jadi begitu. Kau mempunya materi untuk menilai apakah aku berhak atau tidaknya.”



“tentu saja, itu hanya alasan. Bisa di katakan, garis getaran jiwa kita memang cocok…jika aku mengatakanya dalam artian yang dapat di mengerti Manusia-------“



Setelah lapis berkata demikian, Wajah Takeru tampak kebingungan. Lapis melihatnya dan berkata.



“----Cinta pada pandangan pertama, bisa di sebut begitu.”



Wajahnya seperti biasa. Dia tidak memiliki intonasi dalam suaranya atau ekspresi. Namun, wajah Takeru langsung merah padam.



Itu merupakan hal yang sangat memalukan ketika di katakan secara langsung. Mengapa sebuah Realic Eater yang sangat berbahaya mengartikan nya dalam artian yang sering di ungkapkan manusia.



“Kau tampak pucat. Apa kau baik-baik saja?’



“…Bukan apa-apa.”



Merasa malu dan memalingkan wajahnya ke samping, tapi dengan tiba-tiba Lapis mendekat dan menempelkan keningnya yang dingin. Dan bibir lembut yang tampak di depan nya tercium seperti bau lavender.



“Jika kau merasa kurang enak badan sebaiknya kau istirahat-----------ayo tidur bareng. Karena aku dapat mengatur suhu tuburku, mungkin aku dapat menghangatkan atau mendinginkanmu. Tolong gunakan aku.”



“~~~~…..Kau, sejak kita melakukan kontrak kau dapat mengetahui keadaanku tanpa melakukan hal itukan?! Aku baik-baik saja, aku sehat!”



“Oh, ketahuan. Sayang sekali.”



“Sejak kapan kau bertingkah seperti Suginami?!”



“Aku tak mengerti apa maksudmu. Aku hanya mengatakan sesuatu yang salah dengan kepribadian ku.”



Jenis error yang seperti apa itu. Jika saja, Sepanjang waktu dia selalu menyimpan apa yang dia rasakan dan pikirkan di dalam tanpa membiarkannya keluar, dan itu semua?

Meskipun Takeru sudah membayangkan banyaknya masalah, Dia tidak peduli dengan mereka dan tertawa. Kehidupan di Akademi Sihir terasa nyaman, dan setelah berdamai dengan Lapis, tidak ada lagi masalah.



“……………..”



Bagaimanapun, hatinya tak berubah.



Tentu, itu adalah tempat yang bagus, tapi itu juga fakta bahwa Sisi Barat sedang merajalela. Jika perang akan terjadi sekali lagi, Valhalla atau Inkuisisi akan binasa.

Jika itu terjadi, akan ada sejumlah pengorbanan yang besar. Tentunya tidak akan ada tempat yang aman di dunia ini.

Bagaimanapun Akademi Anti Sihir atau Akademi Sihir, meraka tidaklah berbeda.

Tetapi, Tempat di mana dia harus menggunakan kekuatannya bukanlah di sini, tapi di luar. Dia tidak memiliki tempat disini.

Hal pertama yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan orang yang seharusnya dia selamatkan.

Takeru memegang tangan Lapis.

Bagi Takeru-----Mistilteinn, adalah Lapis.

Dia sudah mengukuhkan hatinya.



“…kenapa kalian bermesra-mesraan begitu..?”



Mendengar kata itu di belakangnya, Takeru mulai berbalik.

Disana, tampak Mari dengan wajah putus asa melihat Lapis dan Takeru.



“…Sementara aku melakukan yang terbaik untuk memenuhi misi kau percayakan padaku, lalu kenapa kalian berdua malah mesra-mesraan disini?”



“Bermesraan katamu….tolong jangan salah paham, ini tidak seperti---“



“Apanya yang ‘salah paham’! Menjauh dari Takeru!!!.”



Marah, Mari mencoba menarik Lapis.

Bagaimanapun, Lapis memindahkan tubuhnya meski mendekat ke arah Takeru dan menempelkan keningnya.



“Kita sedang bermesraan, Jadi?”



“?!”



Tanpa banyak kata-kata, Mari menaruh tangannya di sekitar leher Takeru



“KEEEnaaaaaaPAAA???!!!!”



“Aku sudah menjelaskannya dengan benar tapi kenapa aku masih di salahkan untuk hal itu..?!”



“Aku bertanya padamu kenapa kalian terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta! “bermesra-mesraan” dia bilang, “Bermesra-mesraan”! kau membuat sebuah Realic Eater mabuk akan cintamu!”



“Aku hanya bicara padanya, mengatakan padanya bahka kau dan dia sangatlah penting…..!”

“Lalu apa maksud dari aura baru ini?! Wanita ini ekspresinya sudah benar-benar seperti wanita, atau lebih tepatnya seperti Pelacur yang sedang bergairah.!”



“Jangan panggil seaorang wanita “Pelacur” aku tak dapat memaafkan hal itu, tapi itu bukan karena dia tidak berekspresi!”



“Aku juga sedang dalam keadaan panas sehingga mengatakannya!!”



Ketika Takeru hampir terjatuh, dia dengan sedikit tenaga melawan dan menggengam bahu Mari.



“Tenanglah. Untuk sekarang, dengan ini kita harus mengumpulkan komponen untuk menyukseskan negoisasi dengan Mother Goose dan Orochi untuk mendapatkan cara menyelamatkan Kiseki…!



Mungkin, Takeru bergumam dalam pikirannya. Dan memberikan efek sementara pada Mari.



“Nh…untuk saat ini aku akan menyerah, tapi kita akan melanjutkanya nanti..!”



“Terserah padamu, tapi apakah kau memiliki hasilnya?”



Ketika Takeru bertanya pada Mari, Mari duduk di kursi di sebelah Takeru dengan ekspresi cemberut. Apalagi dia meringkuk ke Takeru seperti yang dilakukan Lapis.

Dia di apit oleh kedua gadis itu.



“…Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua.”



“Untuk saat ini, disini. Sebagai alat transfortasi, ada yang tersedia untuk umum.”



Sambil memeluk Takeru, Mari melaporkan hasil pekerjaan nya.

Pada dua atau tiga hari yang lalu, Takeru memberikan misi kepada Mari.

Misinya yaitu menemukan jalan untuk meninggalkan Akademi Sihir ketika keadaan darurat, untuk mendapatkan informasi tersebut. Dia di beri tahu oleh Mari bahwa mereka dipindahkan ke Akademi sihir menggunakan sihir instant, Dalam hal ini, metode untuk mentransfer dari dalam ke luar seharusnya ada.

Sejak saat Takeru tak di ijinkan untuk berkeliaran sendirian, dia menyuruh Mari untuk melakukan nya.

Ketika Mari mendapatkan informasi dari sebuah toko di perbatasan, kemampuan nya dapat di percaya.



“Tapi untuk masyarakat umum agar dapat bergerak diantara penampungan. Di perlukan banyak sekali peralatan dan memakan waktu beberapa jam untuk mengisi energi sihirnya setelah melakukan transfer. Aku tau betapa berharga tempat transfer itu…itu karena bahan yang dibutuhkan untuk menyerap jumlah sihir semacam itu sangat berharga.”



“Jadi kau tidak dapat menemukan kordinat dunia luar?”



“Kordinat untuk untuk semua penampungan secara umum tersedia. Materialnya di simpan di kedua tempat baik Barat dan Timur, tapi biasanya memiliki pengamanan yang ketat.”



“..jadi di lihat dari hasilnya, ada jalan lain?”



Ketika Takeru bertanya demikian, Mari dengan lemah mengangguk.

Setelah memastikan murid terakhir telah meninggalkan kelas, dia berbisik di telinga Takeru.



“Aku membicarakan tentang sebuah prototype dari miniatur alat transfer yang secara resmi masih dalam tahap pengembangan dan belum di digunakan…prototype mereka dikatakan beredar di antara beberapa eksekutif.”



“Untuk pengguna pribadi kah?”



“Sebaliknya, sepertinya faksi tertentu memilikinya. Di sini beberapa petinggi memiliki tentara pribadi mereka. Mereka mungkin menggunakannya untuk mengirim pasukan mereka untuk urusan pribadi mereka.”



“…alih-alih melangkah ke pusat akademi, lebih baik mengarahkan ke tempat yang penjagaan nya lebih longgar.”

“Ya. Aku tahu kira-kira di mana mendapatkannya tapi…semua laki-laki yang bisa menebaknya itu mencurigakan. Meskipun alat transfer itu seharusnya disiapkan oleh departemen pengembangan akademi…yang digunakan oleh para alkemis.”



Ahli alkimia. Sudah cukup jelas bahwa mereka bekerja dengan Valhalla, tapi dia tidak tahu bahwa itu berjalan sejauh ini.



“Tanpa ragu dunia dalam telah berevolusi berkat manfaat alkimia dan sains t, namun nama mereka tidak beredar di dunia ini. Karena mereka sampah, Valhalla menyembunyikan hubungannya dengan mereka. Tapi ada seseorang yang tidak mencoba menyelamatkan wajah mereka, satu orang yang memiliki hubungan kuat dengan Alkemis…di Sisi Barat.”



“Sisi Baratkah…benar-benar masalah.”



“Wizard Kuno bernama Elizabeth. Sepertinya dia benar-benar penyihir dari zaman kuno. Mereka bilang dia bertindak sebagai Ketua Sisi Barat.”



“..lalu sekolah yang berada di Sisi Barat?”



“Tidak. Sejak Timur dan Barat saling melakukan inspeksi satu sama lain secara teratur, tidak mungkin di sana. Jika ada, maka itu akan ada di rumahnya.”





Takeru terdiam, menaruh tangan di dagunya, dan berfikir.

Menggunakan perangkat adalah rencana untuk diggunakan hanya dalam keadaan darurat. Dia tidak menganggap Orochi dan yang lainnya akan bersikap baik untuk mengirim mereka ke dunia luar, jadi ada kemungkinan mereka harus mempersiakan diri dengan benar.

Dia tahu dia sedang tidak tahu apa-apa, tapi selain fakta bahwa mereka tidak akan menceritakan situasinya di luar, Takeru telah memutuskan untuk kembali untuk melindungi tempat dia berada. Dia tidak benar-benar berfikir untuk mengkhianati Orochi dan yang lainnya dari Sisi Timur.

Dia hanya berlu berbicara dan belajar.

Dan jika dia tidak di beritahu, dia akan melakukan rencana ini.



“Tidak ada jalan lain untuk kabur…jika sesuatu yang darurat terjadi, maka jangan ragu.”



“Yah, ngomong-ngomong Mari, apa kau baik-baik saja jika bergabung bersama ku dalam hal ini?”



“Tidak apa-apa. Tujuan ku adalah untuk menebusnya. Untuk banyak nyawa yang telah ku renggut, aku akan menyelamatkan banyak orang. Jika perang terjadi sekarang, banyak orang di luar akan mati lebih dulu.”



“,,,tetap tinggal disini merupakan pilihan yang bagus kau tahu? Kau sudah mendapatkan banyak teman disini.”



Ketika Takeru berkata demikian, Mari menatap wajah takeru dengan eksperisi kesepian.



“Jangan membuatku mengulanginya lagi. Aku senang karena kau mengkhawatirkan ku, tapi tempat yang paling ku inginkan adalah di sana.”



“…maaf, dan terima kasih. Aku senang kau berkata begitu.”



“Juga, jika aku mencapai tujuan ku, aku akan bisa bertemu Ananda dan Inia kapan saja. Itulah dunia yang ingin ku ciptakan.”



Mari berkata demikian sambil menatap di kejauhan.

Ada banyak masalah di depan. Tapi semua itu harus di selesaikan.

Ketika Takeru memegang kendali misi. Pintu kelas tterbuka dengan sedikit paksaan.

Sedikit terkejut, Takeru dan Mari melihat ke arah pintu.



“………………………”



Itu Kanaria, yang memandang serius ke arah Takeru.

Karena berbeda dari biasanya, Takeru mulai sedikit gugup.



“…Kusanagi Takeru.”

Kanaria memanggil namanya.



“Bisa ikut dengan ku sebentar.”



Setelah berkata demikian dia mulai berbalik.



Kanaria membawa Takeru ke area konstruksi yang tidak ada orang sama sekali.

Itu adalah bangunan yang seharusnya menjadi colosseum dan akan mengambang sesudahnya. Hingga saat ini, kedua belah pihak telah menggunakan tempat latihan terpisah, namun karena ke depan mereka berencana melakukan pelatihan gabungan, bangunan ini dibangun.

Mari dan Lapis tetap berada di belakang. Dia tidak ingin mereka terlibat dalam masalah pengguna dari Teknik pedang dua sisi.

Ketika dia melihat Kanaria membawa dua buah padang, dia tidak dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi.

Dari kedua pedang yang dia bawa, Kanaria melempar satu pedang pada Takeru.

Dia menangkapnya dengan tangan kanan.

Kanaria mulai mengambil nafas dalam, sambil perlahan mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada Takeru.



“--------Teknik pedang dua sisi Kusanagi. Kanaria, menantang Kusanagi Takeru untuk berduel.”



Angin telah meniup debu di antara keduanya, dan ketegangan telah berangsur-angsur menyebar.

Takeru menggenggam pedangnya dan tidak bergerak sama sekali.



“…duel sesama siswa itu di larang.”



“Aku siap untuk mendapat hukumanya.”



“..kenapa?”



“Alasan pribadi, dan juga ketertarikan pribadi.”



“…………..”



“Kita lihat siapa yang lebih kuat, Takeru.”



Angin malah menghampiri pipi mereka.

Takeru menarik nafas, dan melihat ke arah langin yang di tutupi bingkai baja.

Saat dia menarik napas, dia memindahkan kaki kirinya ke belakang, menurunkan pinggangnya dan memegang gagang pedang.

Lalu, suara pedang yang keras dan lamban mulai keluar dari sarungnya.

Pedangnya tertuju pada-----Kanaria.



“Teknik pedang dua sisi Kusanagi. Kusanagi Takeru. Duel ini------Aku terima.”



Jarak 10 meter diantara mereka, Kanaria berdiri lebih tinggi sementara Takeru mengambil ancang-ancang diantara bayangan.

Seakan melambangkan cara mereka sendiri dalam melakukan sesuatu, kedua iblis itu keluar.

Dan saat angin berhenti bertiup, dua badai menendang tanah menuju satu sama lain.

Dalam hal kecepatan---Kanaria jauh lebih cepat.



“------shhh!!!!”



Kanaria menegakkan pedangnya di atas dan menguatkan serangannya, dia mengayunkannya ke bawah.

Memprediksi bahwa Takeru menghadang dorongnya, dan menendang tanah bergerak ke arah yang berlawanan.

Dan tanah mulai terbuka.

Kekuatan destruktif yang dilepaskan adalah sesuatu yang tak terpikirkan untuk dilepaskan oleh sebuah katana. Seolah-olah seperti sebuah dinamit yang meledak.

Takeru yang berhasil terhindar dengan tenang menganalisis pergerakan Kanaria di antara puing-puing yang terbang.

Tak satu pun dari mereka menggunakan Soumatou. Begitu Kanaria mengeluarkan pedang dari tanah, Takeru menendang tanah dan menyerangnya.

Kanaria dengan mudah menghalau serangan Takeru dengan pedangnya.



“……..!”



“…………………………..”



Tidak peduli bagaimana dia maju, pedang Kanaria tidak tergeming. Dengan perbedaan kekuatan yang besar ini, tidak mungkin menangkisnya. Kanaria tidak membiarkanya melakukan serangan ataupun dan melarikan diri.

Menekan satu sama lain, keduanya terdiam seperti sebelumnya.



“Takeru, untuk apa kau bertarung.”



“…ah?, apa kau punya begitu banyak waktu untuk bertanya di pengah pertarungan…….!”



“……….kenapa kau bertarung.”



“Untuk melindungi apa yang ingin ku lindungi! Dengan kata lain, untuk diriku sendiri..!”



Pada jawaban Takeru, Kanaria memejamkan matanya.



“Jadi begitu, Kana melakukan ini demi Ibu.”



Dengan suara yang lemah dia mengatakan alasanya untuk memegang pedang.

Namun, saat berikutnya Kanaria dengan mudah mendorong kembali pedang Takeru, api kebencian terliahat di matanya.



“Ibu telah di bunuh oleh Alkemis dan Inkuisisi…mereka harus membayar untuk itu…!”



“Nh…jadi ibumu telah terbunuh, jadi dia ibumu itu..!”



“Betul! Dia melahirkan, dan di manfaatkan oleh mereka, dan setelah menggunakan dia, mereka membunuhnya,,meskipun Mama begitu lembut terhadap Kana, Alkemis membuatnya terus melakukan hal-hal yang mengerikan.”



“……..!!”



Saat dia mencoba mendorong kembali pedangnya, Takeru menempelkan tangan kirinya ke pedangnya untuk menahannya.

Kanaria dengan mata berkabut, kegilaan yang tertinggal di dalam dirinya menempatkan lebih banyak kekuatan.



“Mama telah melindingi Kana..!! Dia melindungi Kana dengan mempertaruhkan nyawanya..! mungkin dia bukanlah orang yang baik…tapi bukan berarti dia harus di bunuh…Tapi hanya dia satu-satunya ibu Kana!”



“…Kanaria…kauu!!!!”



“Kana akan melakukan apapun demi mama yang tewas tanpa penghormatan apapun…! Itulah alasan Kana belajar Teknik pedang dua sisi! Kana akan membunuh siapapun demi Mama! Meskipun mereka adalah manusia yang tidak ada kaitanya…ataupun kau, Takeru!”



Pertahanan takeru telah mencai batasnya.

Soumatou



Dia memicunya seketika, dan membaca aliran pedang Kanaria.

Daripada menahannya, dia memilih untuk menghadapinya.

Berjalan diantara serangan kuat Kanaria, Takeru mundur sekitar 10 meter.

Terkejut, Kanaria mulai melirik ke arah Takeru.

Dia mendarat di mempesona, dan sekali lagi dia mengangkat pedang di awan debu.

Bagaimanapun, dia tidak secara langsung menyerang.

Merespon pada Kanaria, Takeru membuka mulutnya.



“..jadi begitu ceritanya.”



“……………..?”



“Kupikir itu mungkin ... elf kayu, Alkemis semuanya pas. Aku tahu tentang mu, Kanaria.”



Di tengah kebingungan Kanaria, Takeru mengambil nafas kecil.

Dan, dengan sedih bertanya padanya.



“Kau-----apa kau tau Suginami Ikaruga?”



Cahaya mulai hilang dari mata Kanaria.

Seolah-olah sumber kemarahannya didorong masuk, dia kehilangan ekspresinya kelelahannya.



“K-kenapa…Takeru tahu..nama itu.”



“Beberapa bulan yang lalu, kami melibatkan diri untuk mencegah Alkemis melakukan eksperimen untuk mengembalikan elf. Sementara itu, aku pernah mendengar dari Ikaruga tentang Mu.”



“………………………”



“Tentang seorang elf kayu bernama Kanaria yang dia ciptakan bersama Suginami yang lain..”



“…-----“



“Aku piker namanya..Itsuka. Suginami Itsuka, Ikaruga---“



Tiba-tiba setelah itu.

Kanaria yang menunjukkan kelemahannya, menundukan tubuhnya ke tanah dan sesaat menyerang Takeru. Beberapa saat dia menahan pukulan putus asa Kanaria. Meski tidak perlu lagi menahanya, Takeru menerima serangannya.

Untuk berbicara dengan Kanaria.



“K-kenapa----kenapa kau mengetahui namanya!”



“Nh, Ikaruga merupakan rekanku! Rekan dalam waktu yang sama!”



“Diaaa!!! Dia meninggalkan mama dan melarikan diri sendirian! Dan kau merupakan teman nya!”



“Itu tidak benar!! Kau salah paham!!! Dia mencoba untuk menyelamatkan mu dan Itsuka-----“



“Hentikan omong kosong itu!!! Lalu kenapa hanya mama yang mati?! Kenapa dia tidak mengajak mama bersamanya! Mama selalu memanggil namanya terus menerus! Kami bersama hanya dalam waktu yang singkat, tapi Kana tau! Bagaimana penderitaan Mama!



“Dia sudah mencoba…untuk menyelamatkan kalian berdua….!”



“Itu bohooong!!!!”



Dia terus menekan Takeru lebih dalam lagi.

Kakinya kembali menyentuh tanah.

Jadi mengatakan itu padanya tidak berhasil----lalu!

Takeru mengaktifkan penuh Soumato secara langsung.



“Teknik pedang dua sisi Kusanagi ------Ghost Light Firefly (Hantu Capung Bercahaya).”

Dan melepaskan tehnik yang baru saja dia pelajari.

Dia berhenti menahan serangan Kanaria dan menyerangnya sesuai alur.

bergerak mundur dan menangkis pukulan pada saat terakhir. Dia berputar dan mengubah arah alirannya, dan menggendalikan arus kuat itu, dia mengayunkannya ke kepala Kanaria.

Dia tidak memberinya waktu untuk menyerang. Dia mengaktifkan Soumatou hanya pada titik awal mengubah alirannya secara eksplosif. Tanpa waktu istirahat. Tanpa ada waktu untuk berpikir. Ia mengendalikan arus itu dan mempercepatnya.

Tak lama kemudian, Takeru berputar dengan momentum seperti memotong pisau mesin dan terus memukul Kanaria.

Di depan teknik yang seperti tarian pedang, Kanaria benar-benar marah.

Perbedaan ketahan tubuh antara manusia dan elf sangatlah besar. Bahkan melawan musuh dalam bentuk Pemburu Penyihir, Kanaria mampu berdiri sendiri hanya dengan otot dan darahnya. Tapi sekarang, dia jelas-jelas tertekan. Iblis yang bernama Kusanagi Takeru yang Seharusnya memiliki tubuh manusia, mengalahkannya.



“Nh, Teknik pedang dua sisi------Gyuuki!!!”

Sebagai upaya terakhirnya Kanaria membalikkan pedangnya dan melepaskan garis miring ke atas dengan kekuatan yang sama dengan seekor naga yang naik ke langit, menyerang tubuh Takeru dengan momentum yang luar biasa.

Meski berhasil di tahan oleh Takeru, tubuhnya terhempas ke langit. Dia terus berputar diantara rangka baja.

Sekali lagi Kanaria memegang pedangnya dan menunggu di tempat seharusnya Takeru jatuh.

Meskipun, pada saat itu Takeru tak berhenti mengikuti arus serangan itu.

Mengikuti serangan Kanaria, dia mengangkatnya dan berputar cepat di langit.



“Teknik pedang dua sisi Kusanagi -------“



Pada saat bersamaan saat dia mulai terjatuh, suara Takeru bergema.

Kanaria menasihati dirinya sendiri dengan 'sialan itu!' dalam pikirannya Ketinggian tinggi, rotasi, kecepatan jatuh. Teknik ini diaktifkan saat ketiganya disatukan.

Kondisi untuk memicunya adalah yang terbaik. Pukulan ini, bahkan jika itu Kanaria dia tidak akan lolos tanpa cedera.

Namun, karena ada batasan bagaimana seseorang dapat mengubah lintasan di udara, itu adalah teknik yang sulit.

Itu adalah teknik yang tidak akan terpukul jika penerimanya menyadarinya.

Kanaria melompat menjauh dari tempat yang ia antisipasi dimana Takeru akan jatuh.

Bagaimanapun, pada saat itu----dia melihat sesuatu yang tak dapat di percaya.

Dalam perputaranya, Takeru menendang begitu banyak bingkai baja.



“D-dia mengubah lintasan dengan menendang bingkai baja------!!”



Takeru tepat berada di depan Kanaria dan menyerangnya.

Dia coba menghindar, tapi Takeru telah memprediksinya. Dan,



“------Mantis Slope!!!!!”



Itu mengenainya, pukulan Iblis yang sangat membunuh.

Meski Kanaria mencoba menahannya, dia tak dpat melakukanya.

Pedangnya rusak, dan terlempar sangat jauh.

Tentu saja, Takeru jatuh secara diagonal ke tanah, tapi dia mengeluarkan seluruh kekuatanya dan mengaktifkan Soumatou. Dia berhasil mendaratkan kedua kakinya di tanah, dan dalam keadaan terpental dia melipat kedua tangannya di belakang kepalanya seolah mencoba melindungi kepalanya.

Momentum yang tak dapat terhentikan membuatnya terpental jauh.

Dan dia dapat mengurangi dampak pada bagian tubuhnya.

Setelah terpental cukup jauh untuk kedua kalinya, dia mendarat dengan normal di tanah.

Ototnya mulai berteriak, tapi entah bagaimana dia dapat mengurangi dampak pada tubuhnya.

Takeru membawa pedangnya dan berjalan ke arah Kanaria.

Kanaria terbaring di tanah di mana dia jatuh, dan sedikit kejang-kejang di sekujur tubuhnya. Bukan karena dia disayat, dia tidak bisa menahan pukulan yang terlalu kuat dan efeknya telah menyebar ke seluruh tubuhnya.

Namun tetap saja, kebencian yang tersisa di arahkan pada Takeru.

Takeru menutup matanya dan menyarungkan kembali pedangnya.

“Sudah berakhir. Aku tak akan melawan mu lagi.”



“…kff…fuuu..fuu..uuu…”



“Aku tak tau apa yang terjadi antara Ikaruga dan Itsuka, dan apa dampaknya. Mungkin Itsuka benar-benar mati sendirian, mungkin Ikaruga membunuh Itsuka…hanya Ikaruga yang mengetahui kebenaranya. Itu bukanlah sesuatu yang harus ku pedulikan.”



“…uuUuu..uu..”



“Itulah kenapa, pergi dan yakinkan dirimu.”



“..nh..”



“Pergilah dan temui Ikaruga, Kanaria.”



Tak mendengarakan perkataan Takeru, Kanaria mengeluarkan prisai dari pinggangnya dan mencuri kesempatan. Takeru tak menghindar atau menyerang.



“..Kana tak percaya akan hal itu…! Dia meninggalkan mama…dan itu tak akan pernah berubah..!”



“……….”



“Keluarkan pedangmu Takeru.”



“…………”



“Keluarkan sekarang!”



Meskipun Kanaria berteriak padanya, Takeru tak mengeluarkan pedangnya.

Dia hanya memandang pada Kanaria dan tak bergerak.

Gigi Kanaria mengeluarkan sedikit suara. Dia kehilangan disinya dlm kemarahan.



“WaaaawAAAaaa!!!”



Dia menutup matanya, dan mulai berlari menuju Takeru mengarahkan pisau ke perutnya.

Tapi sebelum pisau itu mengenainya, seseorang berdiri diantara mereka.

Suara tajam pisau menusuk sesuatu bergema.

Ketika Kanaria membuka matanya…seorang berwarna biru berdiri di depan dirinya.



“….Lapis..!!”



Takeru hanya terdiam, dan memegang pundaknya.

Bagaimanapun, Lapir melihat Takeru dengan tatapan kosong.



“Kau tak perlu khawatir. Luka semacam ini bahkan tidak akan membunuh manusia, laserasi seperti ini tidak bisa menghancurkanku.”



“..bodoh ... meski begitu, kamu..”



“Tolong jangan berikan omong kosong itu padaku. Siapa yang tolol disini? Kamu adalah kontraktorku. Tindakan apa yang maksudmu tidak bertanggung jawab disini?”



“…………”



“Apakah janji untuk tetap bersama ku itu hanya bohong?”



Lapis memunggungi Takeru dan dengan serius bertanya kepadanya. Dia menelan penjelasan yang seharusnya dia katakan.



“Aku tak akan memaafkanmu.”



“…maaf.”



“Aku tak akan memaafkanmu.”



“Aku minta maaf.”



“Aku tak ada niat untuk memaafkanmu.”



“Ku bilang aku minta maaf..”



Dia menatapnya dengan bingung di matanya, tapi Lapis bersikeras.

Takeru menatapnya, dan sambil menggaruk pipinya ia mencari kata-kata yang ingin didengar Lapis darinya.



“Aku akan tinggal bersamamu selamanya. Aku tidak akan mengingkari janji kita.”



“Baiklah…..aku akan memaafkanmu.”



Dia berbalik dengan gerakan memutar, mengeluarkan pisau dari perutnya dan menghadap ke arahnya.

Dia tidak tersenyum. Dia tidak tampak bahagia. Namun, kepuasan bisa dirasakan darinya. Takeru mengambil pisau dari Lapis.

Dibelakang Lapis, Kanaria terjatuh.



“………nh.”



“…Kanaria, kau harusnya bersama kami. Kami akan ke Akademi Anti Sihir…..kami akan pergi keluar.”



“…………..”



“Ikutlah bersama kami, dan temui Ikaruga.”



Takeru berlutut dan mengulurkan tangan ke arah Kanaria.

Bingung, dia menatap tangan Takeru. Meski ragu-ragu sejenak, dia meraih Takeru dengan malu-malu.

Namun, saat tangan mereka hendak bersentuhan.



“…Ara, Kanaria? Aku ingin tahu apakah Kau ingin mengkhianati kami?



Mendengar suara dari langit di atas, Takeru berpaling ke arahnya dengan tergesa-gesa.

Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang meniupnya, mematahkan postur tubuhnya.

Lapis mendorong tubuh Takeru. Begitu dia mencoba memahami apa yang terjadi, sesuatu seperti arus listrik telah melilit tubuh Lapis.



“------Lapis.”



“Jangan----sentuh aku.”



Meskipun dia mencoba merentangkan tangannya ke arahnya, Lapis berbicara langsung ke dalam kepalanya.

Jika dia menyentuhnya, tubuh Takeru tidak akan mampu menahannya. Itu membuatnya frustrasi, tapi dia tidak mampu melakukan apapun.

Dia menggeram dan melihat ke arah langit.

Seorang wanita bermata merah telah melihat ke bawah Takeru di atas tahta yang mengambang di udara.



“Kau…..siapa kau sebenarnya.”



“Ara ara, seorang Empty menanyakan namaku, benar-benar anak nakal yang bodoh.”



Sambil mengipasi wajahnya wanita itu memperkenalkan dirinya.



“Namaku adalah Elizabeth…pemimpin dari Valhalla dan juga pemilik dari Akademi Sihir Bagian Barat. Orang-orang memanggilku “Almighty Witch”…senang bertemu denganmu.”



Elliza dengan santai mengangkat kipasnya ke atas.

Dan saat dia melakukannya, arus listrik yang menahan tubuh Lapis perlahan naik.



“Lapis!”



“Maaf, tapi aku akan mengambil Realic Eater ini. Ini terlalu berat dan berbahaya untuk di pegang oleh mahluk sepertimu…Hanya penyihir dari Pure Blood sepertiku yang dapat memilikinya.



Dia mengangkat Lapis tepat di sampingnya, lalu menyentuh pipi Lapis dengan kuku panjangnya.

Pada saat yang sama Kanaria bangkit dan berseru pada Eliza.



“Eliza, kau mengikutiku! Ini berbeda dengan apa yang diputuskan! Misi ku belum berakhir! Jangan menghalangi ku!.”



“Ara? Itu karena elf kayu kotor seperti mu sangat lamban sehingga aku harus bertindak sejauh ini sendiri? Apalagi, kau berdamai dengan musuhmu….itu sebabnya kau tidak bisa mempercayai ras campuran.”



“….Aku tidak mengkhianati mu atau apapun, musuh Kana adalah Inkuisisi dan Alkemis.”



Kanaria berusaha mati-matian membela dirinya sendiri pada Eliza, tapi Eliza hanya meludahkan sebuah helaan nafas sambil mengipasi dirinya sendiri.



“Benar-benar naif sekali…sekali saja seorang Demi Human kehilangan kepercayaan kami mereka tidak akan di terima lagi di Sisi Barat. Tak peduli berapa kali kau membuat alasan, mengerti?”



“Tunggu! Dengarkan-----“



“Sayang sekali, aku tak memiliki kewajiban untuk mendengarkan. Sesuatu yang ada di kepalamu.”



Ketika Eliza melipat kipasnya, lingkaran sihir muncul di bawah kaki Kanaria.

Sebelum Kanaria melompat, sihirnya aktif.



“ <Phallaris Bull> “



Seperti namanya, sebuah dinding telah muncul di sekitar Kanaria dengan lubang yang tak terhitung jumlahnya di dalamnya secara bertahap menutupi tubuhnya.

Saat sosok Kanaria tidak lagi terlihat, jeritan yang memekakkan telinga bergema. Suhu dan uap tinggi mengamuk dari lubang merah di dinding.



“Suara itu cukup bagus. Itu panas bukan? Ini adalah sihir yang ku buat dengan mengacu pada alat penyiksaan yang asli.”



“ELIZA! ELIZAAAaaaa!”



“Jangan khawatir. Tujuan selanjutnya kau akan dikirim. Berbanggalah, disana orang-orang memiliki hobi menyiksa demi human. menjadi mainan tingkat tinggi Pure Blood akan menjadi pekerjaan mu selanjutnya.”



Suara tawa Eliza bergema.

Ketika Takeru berlari untuk membantu Kanaria, ada banyak orang berjubah merah yang muncul dari tanah mencegahnya.



“Sialan…”



“Bukankah kau si Empty…jika kamu dipilih oleh Realic Eater kemampuanmu pasti cukup tinggi kan? Ini hiburan yang bagus, tunjukkan kemampuanmu. Aku akan melihat seberapa jauh kau bisa pergi dengan musuh pureblood sebagai lawan mu.”

Saat Eliza mengayunkan kipasnya sambil menunduk menatapnya, Lapis dan Kanaria lenyap tertelan oleh distorsi di ruang.

Takeru memegang pedang tanpa bergerak, dan menggeleng dengan kecewa di wajahnya.



“Semuanya, sekarang saatnya untuk latihan! Tidak ada yang namanya kegagalan bagi siswa terbaik kita! Orang-orang yang menghancurkan kecoa ini akan memiliki status dan prestise yang lebih besar!”

Seiring dengan suara Eliza yang duduk di atas takhta, sekelompok orang berjubah merah mengelilingi Takeru. Wajah mereka semua masih muda. Mungkin, mereka adalah murid Sisi Barat.

Ketika dia melihat kesekitar, dia melihat ada lebih banyak lagi. Disana juga ada yang berdiri di atas bingkai baja dan mengarahkan tongkat sihir padanya.

Kanaria yang melapor ke Sisi Barat digunakan sebagai umpan untuk memancing keluar Takeru sehingga mereka bisa mendapatkan Mistilteinn. Dengan kata lain, Takeru teramakan jebakan.



“Kalian semua, bukankah kalian seharusnya rekan Kanaria..”



Ketika dia berbicara pada pasukan musuh, tawa mengejek mualai terdengar.”



“Satu-satunya rekan kita adalah anggota Partai Pureblood.”



“Binatang yang tidak sehat harus dihancurkan.”



“Hanya mereka yang merasakan sejarah menyedihkan adalah rekan kita.”



Mendengar suara mereka, Takeru menyanggahnya.



“Nilai manusia tidak terletak pada kekuatan darah atau sihir mereka….jika ada, orang seperti mu yang meninggalkan temanmu, kau hanya sampah….! Bukankah kau manusia seperti dia!”



“Dia memang harus mati. Dia akan berusaha untuk menghilangkan kutukan abadi kemanusiaan.”

“Jangan hanya memilih target yang begitu mudah untuk membenci...! Itulah mengapa semua yang ada di kepala kalian adalah perang!”



Takeru berteriak. Tapi orang-orang dari Pure Blood hanya tertawa. Mereka tertawa pada Takeru.



“Empty berdarah kotor. Jangan bicara seolah kau mengatahui segalanya. Penentuan kita terus berlanjut sejak umat manusia diciptakan. Rasa sakit, Siksaan, Kematian, Tangisan, Kekalahan. Darah kami mengingat segalanya. Darah yang mengingatnya. Kebencian kami !. Kebencian kami! Ketahuilah kesedihan kami!”



Tongkat sihir Pure Blood mengeluarkan sihir yang bercahaya.

Takeru memegang pedangnya, matanya bersinar merah.



“Kebahagiaan kita adalah kehancuran kekosongan. Kebencian kita akan menjadi satu. Ambisi kita akan menjadi satu. Kami adalah Pureblood. Kami adalah kristalisasi kesedihan penyihir.”



‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’Kami akan Balas Dendam’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’





“--------------Kalau begitu baiklah! Ayo lakukan denganku! Aku akan menghancurkan keputusanmu itu!”



Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama darahnya benar-benar bergegas ke kepala Takeru.

Tidak mungkin untuk tidak membunuh, tapi jika memungkinkan.

Jika musuh datang padanya dengan tujuan membunuh----tidak akan ada masalah jika mereka terbunuh!

Dengan penuh amarah, Takeru menghentakan kaki ke tanah dengan kekuatan penuh.

Anggota Pureblood yang mengeluarkan kekuatan sihir langsung di lumpuhkan.

Namun, serangan musuh tak memberinya waktu intuk istirahat.

Segera setelah tembakan baris depan, barisan belakang melepaskan peluru mereka yang memprediksi tujuan Takeru.

Mereka seperti pasukan bayonet tanpa celah pertahanan, mereka sangat terlatih.

Setelah menjatuhkan tiga orang, dia bersembunyi di blakang tumpukan kayu.

Segera setelah dia menarik napas, peluru sihir mendekat bergerak di sekitar tumpukan itu.

“------Peluru kendali?!”



Dia memotong peluru dengan pedang, tapi jumlah peluru yang menjulang meningkat.



“Jangan memandang rendah diriku hanya karena yang ku miliki hanyalah daging dan darah!”



Takeru menekuk lututnya dan melompat.

Dia naik ke bingkai baja ke tempat penyihir yang menargetkanya, dia memotong-motong tongkatnya dan memukulnya dengan punggung pedangnya.



“Laki-laki ini…dia monster!”



“Baru sekarang, itu adalah ilmu pedang yang sama yang digunakan Kusanagi Orochi…jangan remehkan dia, dia sangat terlatih.”



Seorang penyihir memperingatkan semua orang secara terbuka, bagaimanapun.



“Sudah terlambat untuk berkata seperti itu!”



Kecepatan Takeru melampaui perintah penyihir itu.

Bingkai baja dengan hanya satu cara untuk melarikan diri sangat menguntungkan bagi Takeru.

Dia menebas lima orang dalam kelompok itu dan langsung melihat ke bawah.



“---------Mulai salvonya!”



[TL NOTE: Entah salvo yang bagaimana]



Seiring dengan perintah orang itu, beberapa lusin peluru sihir menukik di atas Takeru.

Takeru menendang bingkai baja itu dan melompat di udara.



“Dia terbang! Atau lebih tepatnya dia jatuh!”

Meski Pureblood menggunakan taktik yang sangat masuk akal, tapi tak mungkin Takeru memprediksinya. Ketika dia terbang ia meletakkan kakinya rangka baja di sisi yang berlawanan dan menggebrak.



“-------------Apa!!!!”



Sementara musuh tercengang, Takeru menendang bingkai baja lagi dan lagi terus menuju ke bawah seperti pinball. Seperti itu, bahkan jika mereka menebak di mana dia akan jatuh mereka tidak akan bisa memukulnya.

Dan saat dia menendang rangka baja paling rendah



“Teknik pedang dua sisi-----------------Single Wheel!!”



Setelah menendang rangka baja dan mendarat di atas tanah, Takeru menciptakan gambar yang omniduretional sambil memperthankan momentumnya.

Pukulan yang dilepaskan dari keadaan di mana ia memutar pinggang dan tubuhnya hingga batas membantai sampai lima musuhnya.

Mempertahankan momentumnya setelah mendarat ia berturut-turut menjatuhkan satu demi satu musuhnya seolah-olah dia meluncur.



“Terlalu cepat, untuk seorang Empty yang bahkan tidak menggunakan Realic eater-----guaahahhhh!!!”



Takeru telah berada di bawahnya, dan memukulkan pungung pedang di dagunya.

Dia menjatuhkan belasan orang sekaligus, dan menhancurkan barisan musuh.

Dan dia menyadari hanya sepuluh orang tersisa.

Setelah akhirnya menghentikan alirannya, Takeru mengembuskan napas. Meski ia belajar dari Orochi bagaimana menggunakan arus, dengan banyaknya lawan beban di tubuh ini masih luar biasa.

Dia belum sepenuhnya pulih, tapi dia harus buru-buru pergi ke tempat Lapis berada.

Saat ini, Takeru bisa sedikit merasakan keberadaan Lapis, tapi dia tidak tahu apa yang telah dilakukan padanya di lokasi dia dipindahkan, jadi dia harus buru-buru dan mengejarnya.

Takeru memegang pedangnya dan menebas musuh di dekatnya.

Salah satu musuh menggunakan pelindung, menghentikan pedangnya sejenak. Musuh-musuhnya tidakla bodoh, meski sulit melakukan tindakan defensif dan ofensif secara bersamaan, dengan jumlah seperti kerja sama itu adalah keahlian mereka. Mereka bermaksud menembaknya saat serangannya melambat.

“Jangan pikir kau dapat menghalangiku dengan hal seperti ini!”



Namun, sangat beruntung pedang Takeru terbuat dari bahan yang anti sihir. Dia dapat menghancurkan pelindung itu hanya dengan sekali hempasan. Saat kekuatan sihirnya hancur, Takeru menyerang penyihir yang mengunakan pelindung itu.

Pureblood menganggap Takeru sebagai ancaman dan berhenti mengunakan taktik sederhana.

Tiga dari mereka telah bekerja sama membentuk sebuah sihir secara bersamaan.



“Jangan meremehkan penyihir Pureblood….!!”



Udara mulai berdesir, dan lingkaran sihir muncul di bawah kaki Takeru.

Sudah terlambat untuk menghindarinya, merasa lima kali berat badannya menekannya sehingga dia berlutut.



“Sihir pemberat! Jangkauannya sempit tapi…dia tidak akan bergerak sejenak.”



Seorang musuh tertawa dengan bangga seakan sudah menang.

Namun,



“Gh-uUuuuUUUuuUuaaahhh!”



Takeru yang segera bangkit dan memaksa tubuhnya untuk menghancurkan sihir itu.

Sambil mendengar suara ototnya pecah, ia melompat.

Di juar jangkauan-----di atas musuh.



“Dia melompat dengan keadaan seperti itu!”



Tidak meberikan waktu untk mereka bertiga bahkan hanya untuk berteriak, dia mengirim sihir itu dan meluapkanya.

Takeru berdiri di atas tiga mayat itu, menusuk tanah dengan pedangnya dan mengeluarkan napas terengah-engah.

Nafas panas yang keluar mulutnya dan mata merah bersinar membuatnya terlihat seperti binatang buas.

Sisa enam anggota pasukan musuh yang mulai kehilangan keinginan untuk melawan serangan Takeru.



“…E-Eliza-sama..”



Salah satu dari enam pasukan itu mengarahkan pandangannya pada Eliza yang berada di langit dan memintanya seperti meminta bantuan.

Bosan, Eliza melihat pada para penyihir itu dengan tatapan dingin.



“Dia seperti belalang.”



Dia menyamakan Takeru yang menghancurkan penyihir Pureblood.



“Menyedihkan. Bergantung pada kecepatan musuh dan hanya menembak peluru sihir dasar. kalian pergi dengan tidak sabar dan lupa prosedur operasi. Meskipun aku mengajari kalian bahwa titik lemah penyihir adalah serangan lambat tapi masih saja kalian lakukan….Sepertinya membawa anak muda untuk mendapatkan beberapa pengalaman adalah sebuah kesalahan.”



Eliza terlehat kecewa pada murid-muridnya sebagai guru sihir mereka.



“Ahh, sudahlah. Cepatlah membawa mereka sepertinya masih terlalu awal.”



Dia melipat kipas dan dengan ringan mengangkatnya sedikit.

Dan dengan sedikit putaran dari kipas itu dia mengeluarkan kekuatan sihir dari tubuhnya.

Lingkaran Sihir tercipta di langit.

Tiba-tiba muncul sesuatu yang aneh. Meski hanya satu lingkaran sihir yang dibutuhkan untuk menggunakan sihir, Eliza mengerahkan sepuluh lingkaran sihir. Semuanya besar dan warnanya berbeda.

Semua orang dari Pureblood menatap Eliza dengan memohon.



“Eliza-sama….! Tolong ampuni kami.”



Mendengar ketakutan dengan suara musuh, Takeru juga melihat ke atas.

Dengan sekilas dia mengerti apa yang Eliza coba lakukan.

Dia mencoba untuk membantai semua anak buahnya dengan sihir.



“Ini perintah atasan. Kalian semua, tahan si Empty itu dengan mengorbankan hidup kalian. Jika kalian melakukanya, pada batu nisan nama kalian akan terukir sebagai seorang pahlawan Pure Blood yang terhormat.”



Eliza melihat ke bawah pada para penyihir di bawah dengan senyuman mengejek dan memusatkan sihirnya. Beberapa lingkaran sihir tumpang tindih di satu tempat, dan di mana mereka telah bercampur warna berubah menjadi ungu keunguan.

Takeru merasakan dinginnya kulitnya.

Hal itu berbahaya. Naluri bertahan Takeru terdengar seperti memberi peringatan.

Melihat sihir multi-warna itu, Takeru mencoba mundur dari tempatnya, namun ketika ia mencoba bergerak sihir peningkat berat badanpun telah menyerangnya lagi.



“Kami tidak akan membiarkanmu…untuk kabur!!!”



Lagipula, musuh-musuh lainnya mengikat Takeru dengan rantai sihir.



“Dia mencoba membunuh mereka bersama dengan ku! Kenapa kau bertindak sampai sejauh ini?!!”



Ketika Takeru berteriak, mereka tidak bergeming, hanya mengarahkan kebencianya pada Takeru.



“Orang yang datang dan hidup di dunia luar sepertimu tak akan mengerti…..Kebencian kami!!!”



“Orang tua kami telah di bunuh oleh Inkuisisi….dan adik kecil ku di jadikan bahan percobaan…!”



“Dan teman baikku!”



“Saudara Lak-lakiku!”



“Kami lahir di dunia luar….kami tidak mempunyai pilihan selain hidup di perbatasan, dihina oleh kekosongan, begitu banyak penghinaan! Keinginanku yang sangat berharga adalah membunuh sebanyak mungkin sampah…!”



Air mata mulai terlihat di mata mereka ketika mereka menerima kematian mereka.

Bagi mereka untuk melakukan resolusi seperti itu, itu adalah kegilaan. Di kepalanya hanya ada keinginan balas dendam. Dia tidak menyangkal siapa pun yang ingin balas dendam, tapi mengarahkan kebencian yang tidak adil pada orang-orang yang tidak bersalah tidak ada gunanya. Itu semua salah.

Dan pemimpin yang menghasut cara yang salah untuk membalas dendam adalah…..!



“Elizabeth…!”



Takeru mengarahkan tatapan marah pada Elizabeth.

Eliza tertawa cekikikan dan mengayunkan kipas angin.

Pola lingkaran sihinya mulai bergerak. Mengeluarkan suara yang sangat keras, dan mulai terpecah dan berkumpul pada satu titik.

Dan di depan Kipasnya, sebuah cahaya kecil dengan kumpulan sihir terbentuk dan di padatkan.



“Atributku adalah “Almighty” mencakup semua atribut selain artefak kuno. Dan jika sifat-sifat yang biasanya saling tolak kini menyatu…apakah Anda tahu apa yang akan terjadi..?!”

[TL Note: Almighty=Yang Maha Kuasa, atau bisa di sebut melebihi apa yang bisa di lakukan Manusia]

Lingkungan kehilangan suara mereka. Pasir di bawah kakinya bergetar dan tersendat di udara melawan gravitasi.



“Destruction-------<Quietus>.”



Semua yang bisa di lakukan Takeru hanyalah menerima serangan itu dengan tubuhnya.

Sihir yang luar biasa itu yang sebelumnya ada di Kipas itu kini jatuh di depan mata Takeru.

Dan kumpulan sihir itu telah berbalut listrik untuk sesaat------



----------------Dan hancur berkeping-keping.



Pemusnahan itu memenuhi bidang penglihatan Takeru. Dia tidak bisa melihat atau merasakan apapun.

Keajaiban bercampur aduk seperti ledakan yang mirip dengan polusi yang melahap segalanya.

Bencana terbesar atau lebih tepatnya di sebut ledakan telah menyelimuti tempat itu.



“Ahahahahahah! Benar-benar cantik bukan?! Seorang vampir kuno merancang ini untuk menghancurkan matahari yang penuh kebencian! Betapa cantiknya kembang api yang membawa kehancuran!”



Ketika Eliza tertawa, hancurnya daratan itu terus berlanjut.

Disana tidak memerlukan anggota Pureblood untuk menahan Takeru pada tempat awalnya.

Jangkauan sihir Eliza sangatlah luas, Dia tidak punya cukup waktu untuk melarikan diri sejak awal.

Ledakan itu mereda semenit kemudian.

Dia bisa tahu meski dengan penglihatannya yang terhambat oleh debu. Konstruksi itu memiliki kawah besar seolah-olah sebuah meteorit telah menabraknya.

Semua makhluk hidup telah mati dan anorganik telah berubah menjadi pasir. Melihat ini, Eliza mencoba tertawa puas,

-----------Dan ternyata gagal.



“…apa ini….Aku kira…?”



Wajah Eliza terkejut dan melihat kebawah.

Pada bagian terdalam dari kawah yang terbentuk ada ruang yang dibungkus dengan penghalang berwarna pelangi.

Di tengahnya ada Takeru dan empat anggota Pureblood yang pingsan.


Serta--gadis yang menjadi sumber sihir pelindung.

Gadis itu mengusapkan debu dari bahunya dan mendorong ujung topi itu dengan jarinya.

“Jika itu bukan gerakan yang mencolok…karakter busukmu yang kau buang dari sekutumu membuat ku lega.”



Sang Penyihir Aurora---------Nikaido Mari menghilangkan sihir pelindungnya dan menatap Eliza yang ada di langit.

Mengabaikan Eliza yang wajahnya di penuhi oleh amarah, Mari dengan segera melihat Takeru dengan khawatir.



“Takeru,,,kau baik-baik saja?”



“Mari…kau…”



Dia ingin bertanya kenapa dia disini, tapi Mari melihat kebawah sambil menyembunykan wajah di belakang topinya.



“Aku tak akan memaafkanmu. Ini salahmu, kau meninggalkanku di belakang sendirian…”



“……………..”



“…Aku hanya….khawatir..”



Mendengar suara cemas Mari, Takeru merasa bersalah.

Tidak mungkin dia bisa memprediksinya akan berubah seperti ini, tapi kenyataan bahwa dia membuatnya khawatir adalah fakta yang tidak dapat dimaafkan. Itu juga fakta bahwa dia akan mati jika Mari tidak datang.



“Aku minta maaf. Terima kasih sudah datang dan menyelamatkan ku, Mari.”



Dia denagn tulus minta maaf pada Mari.

Mari mengangkat wajahnya dan melihat Takeru sambil teripu, kebahagian tampak di wajahnya.



“S-selama kau mengerti, b-baiklah.”

Karena mau dia berbalik dari Takeru dan kembali melihat ke langit.

Merespon pandangan penuh kebencian Eliza, Mari juga menatapnya.



“Tentu saja, Kau adalah penyihir luar Aurora….bukankah kau disebut 'Penyihir Non-Killing'...jadi kau adalah bonus yang datang ke sini dengan bersamaan dengan Mistilteinn.”



Disebut 'bonus', pembuluh darah muncul di dahi Mari.



“Terima kasih telah membesarkan nama panggilan ku. Jadi kamu ketua Sisi Barat? Apa yang wanita tua sepertimu lakukan di sini?”



Ketika dia di panggil ‘Tua’, kali ini pembuluh darah nya nampak di dahi Eliza.

Itu adalah pertengkaran khusus antara perempuan.



“Setelah menggunakan sihir besar semacam itu, baik Senat maupun Sisi Timur tidak akan diam .”



“Selama Mistilteinn menjadi milikku, pertarungan kekuatan di dunia ini akan menjadi masalah sepele. Juga, itu bukan masalah sih….mayoritas Senat adalah sekutu kmai.”



“Mistilltein…? Apa sebenarnya tujuanmu?”



“Meski jika terlihat seperti ini, apa kau tahu aku adalah pemimpin Pureblood? Aku punya satu tujuan…Pemusnahan para Empty. Membersihkan dunia ini. Itulah kenapa aku memerlukan Pedang itu.”



“…Hmph, sedehana. Mudah untuk di mengerti, dan cukup membantu.”



Mendengar tujuan Eliza, kemarahan Mari mulai nampak.



“Itu karena ada penyihir sepertimu, karena itulah dunia luar tidak menerima kita.”



“Kebetulan sekali. Aku tidak bisa membiarkan penyihir pengecut yang disebut 'Non-Killing' bernafas atau ada di dunia ini.”

Mari dan Eliza menyadari dalam sekejap bahwa keberadaan dan kepercayaan mereka sangat bertolak belakang.

Takeru menyadari bahwa bentrokan mereka tidak dapat dihindari, dan mencoba untuk memegang pedang.



“Takeru, kejar Lapis-chan.”



“Aku tidak bisa melakukan itu.”



“Dia pedangmu yang berharga bukan? Jadi pergilah.”



Mari maju selangkah dan berbalik membelakangi Takeru.



“…pesan dari Orochi, Dia mengatakan bahwa kalung yang kau gunakan tidak memiliki bahan peledak sejak awal.”



“?! Guru mengatakan itu?”



“Ya. Juga ‘Aku tak dapat datang untuk membantu’ katanya.”



Takeru menyentuh kerahnya dan berfikir.

Dia tidak tau apa tujuan Orochi. Tapi dia berkata tidak ada bahan peledak di kalung itu, itu artinya Orochi percaya padanya.

Dia memegang gagang pedang dengan kuat.



“Aku mengerti. Tapi aku tak akan membiarkanmu melawan wanita itu sendirian. Dia kuat….Aku bisa setidaknya menjadi umpan jika aku disini kan?”



Berdiri di sebalah Mari. Takeru menarik pedangnya.

Memiliki rekan bernama Mari sangat menenteramkan hati. Bahkan jika dia tidak bisa melakukannya sendiri, mereka bisa bertarung bersama.



“Ayo kita kalahkan dia bersama, Mari!!”



“Takeru, apa aku bisa jujur disini?”



“Ya, apa itu?”



“Singkatnya, kau hanya menganggu.”



Takeru hampir menjatuhkan pedangnya karena terkejut.



“-----------Yang benar saja?!”



“Maaf. Tapi disini kau hanya akan menghalangiku. Jika kau disini, aku tak akan bisa bertarung dengan serius.”



Itu bukanlah candaan, ekspresi Mari sangatlah serius.

Berfikir akan hal itu, Takeru tak pernah melihat Mari ketika dia serius. Dia tidak tahu bagaimana dan seperti apa kekuatan dari gadis yang di sebut ‘Penyihir Aurora’ miliki.

Namun, Sekali sebelumnya selama turnamen pertempuran ia melihat sihir Mari. Ini melaambangkan kekuatan yang luar biasa. Dia setuju bahwa Mari mungkin tidak bisa bertarung dengan baik jika dia berada di sana hanya dengan daging dan darahnya.



“Aku akan mengurus ini di sini, Aku akan segera menyelesaikan nya dan menyusulmu.”



Mari menutup satu matanya dan tersenyum pada Takeru.

Meski merasa sedikit tidak nyaman, Takeru menerima usulan Mari dan hendak mengejar Lapis.



“Ah, Takeru tunggu sebentar.”



“-------------nanti akan ku bantu setelah ini.”



Merasa sedikit senang, Takeru melihat ke belakang.

“Tidak. Berdiri disini dan lompat.”



“…ha?”



“Lompat kesini, lompat. Pyon. Aku tak akan peduli bagaimana pokoknya cepatlah.



Meski dia tak mengerti keinganan Mari, merasa bingung dia berdiri di samping Mari dan melompat.



“ <White Rabbit> “



Ketika nama sihir terucap dari bibir Mari, lingkaran sihir muncul d bawah kaki Takeru.



“He?”



Ketika dia melihat ke sekitar, lingkaran sihir memancarkan cahaya sampai batasnya.

Dia benar-benar merasakan sesuatu yang tak bagus.



“Hei, jangan-jangan kau------“



“Semoga perjalananmu menyenangkan---------berusahalah untuk tidak mati!”



Segera setelah Mari mendorongnya, sihirnya diaktifkan. Sesaat Takeru mengira tubuhnya diangkat, tapi kemudian dia tertiup jauh seperti roket.



“heyheyheyheyheyheyHEYHEYHEYEHEYHEYAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”



Mari melihat ke arah Takeru yang terpental jauh sampai dia tak lagi terlihat.



Setelah yakin bahwa Takeru mendarat di tempat melayang yang jauh, Mari berpaling ke depan.

Di udara, Eliza yang duduk di tahtanya dengan elegan mengipasi dirinya.

“….leluconnya telah selesai?”



“Untukmu yang menunggu kami sampai selesai bicara, bukankah kau itu terlalu baik?”



“Sisi Barat tidak begitu lemah untuk melawan anak nakal seperti itu. Selain itu, aku tidak ingin hiburanku terganggu oleh cacing semacam itu.”



Mulut Eliza yang tertawa sekilas menunjukan taringnya.



“Hiburan katamu? Ku pikir bahwa untuk nenek-nenek seperti mu, melawan ku akan terlalu banyak melakukan pekerjaan ini sendiri.”



Mari menunjukkan senyum jahat yang tidak kalah dari Eliza dan mulai mengeluarkan sihir terbang.

Cicin berwarna pelangi muncul di kedua kakinya dan tubuhnya mulai mengambang.

Ketika dia mencapai ketinggian yang sama, Mari dan Eliza menatap satu sama lain.



“Ini hiburan yang kamu mau? Sedikit latihan. Karena tidak ada ahli sihir di tempat penampungan ini yang bisa menjadi lawan ku, ku pikir aku akan melakukan pemanasan.”



“Heee, Sudah lama aku bertarung dengan segenap kekuatanku. Jika kau berkata demikian, maka aku tidak akan menahan diri.”



“Kita lihat sejauh mana “Aurora” dapat bertahan dari “Almighty”Ku.”



“Seperti yang kau minta, akau akan menunjukan apa yang cahaya ini bisa lakukan.”



Mereka berdua menatap satu sama lain, dan mulai menciptakan lingkaran sihir.

“Almighty” yang Eliza gunakan memiliki begitu banyak warna.

Mari yang berwarna pelangi "Aurora" yang merupakan sifat terang yang paling kuat.

Kedua lingkaran sihir mereka yang tak terhitung jumlahnya memenuhi langit.

Dan-----



“Majulah, bocah-----!”



“------Persiapkan dirimu, dasar wanita tua!”

Keduanya bertarung dengan sihir mereka satu sama lain.
Facebook Twitter Google+