Prolog | YuukiNovel

Prolog


Di kota kami, kota Saegusa, ada banyak festival besar yang diadakan setiap tahun di hari Tanabata, yaitu Festival Saegusa. Meskipun kubilang festival besar, maksudku bagi kami masyarakat domestik, tidak sebesar itu sampai menjadi kegiatan nasional....



Meskipun begitu, jika kau datang dan melihat kota ini baru-baru ini, kau akan mengerti betapa dicintainya festival ini oleh penduduk setempat.

Sebagai contoh, poster yang tergantung di setiap sudut distrik belanja. Contoh lainnya, orang-orang pasti membawa bambu untuk menggantung tenzaku.

[Tenzaku : Lembaran kertas, biasanya diwarnai, dimana orang-orang menulis harapan mereka.]

Sepulang sekolah.

Saat sedang berjalan pulang dimana hari menjelang malam, aku melihat kota diwarnai sedikit demi sedikit dengan warna-warni festival.



“Haru!”



Aku berputar kepada suara yang tidak asing dan melihat orang yang kukenal. Potongan poni yang sempurna layaknya seorang putri dan ponytail-nya bergoyang tertiup angin. Wajah yang terbentuk dengan baik dan jelas itu memiliki fitur yang kecil, yang menjadikan pemiliknya sebagai idola dari sekolah dimana aku belajar.



Kurose Kyouko. Jenis hubungan yang kumiliki dengan pemilik suara yang tiba-tiba memanggilku itu adalah teman masa kecil sejak sekolah dasar.



“Dalam perjalanan pulang, Haru?”



“Tidak. Aku akan mengunjungi toko buku di depan stasiun.”



“He~. Buku seperti apa yang akan kau beli? Karena ini Haru, tentu saja, manga?”





“BUKAN. Aku ingin membeli buku kumpulan soal sebelumnya untuk Ujian Nasional.”



[Ujian Nasional (Center Test) : Ujian nasional untuk masuk univ; beberapa univ mungkin meminta tes tambahan.]





“KENAPA?!”



Ia melihatku dengan mata yang membelalak terkejut.



“Kenapa, kau tanya.... Mulai tahun depan kita akan mulai mempersiapkan diri untuk ujian. Kurasa ini waktunya untuk mulai mengambil tindakan.”



“... Jangan-jangan kau berpikir untuk mengambil ujian masuk kuliah?”



“Aku tidak terlalu memikirkan masa depan, tapi tentu saja aku menjadikannya sebagai pilihan... apa. Kau tidak percaya aku bisa?”



“Bukan begitu, tapi... bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai penjinak monster?”



“... ahh.... Maksudmu itu....”



Mereka yang menjadi perantara monster dan manusia --- penjinak monster. Kebetulan --- aku membebani tugas dimana kelanjutan hidup dari ras manusia bergantung. Membebani tanggung jawab itu... bagaimana bisa?



“... Jadi. Masih belum ada kontak apapun bahkan setelah dua minggu?”



“Aaah. Apa aku telah melakukan sesuatu... yang membuat orang itu membenciku...?”



Meskipun aku tidak tahu sampai nanti. Sepertinya agar seorang pemula bekerja sendiri, izin dari atasan (dalam hal ini, Luka) dibutuhkan.



Namun.



Hari-hari berlalu dan belum ada kabar dari atasanku yang tidak bertanggung jawab dan acuh tak acuh. Tapi aku harus setuju bahwa aku harus senang bisa bekerja dibawah wanita penjinak monster yang cantik dengan kemampuan tidak biasa yang luar biasa.



Dengan waktu bebas yang diberikan kelalaian atasanku ini, satu hal yang hanya bisa kulakukan adalah belajar setiap hari untuk ujian tanpa peduli pada tugas itu.



“Orang itu, dia sangat tidak bertanggung jawab. Mungkin dia bahkan sudah lupa bahwa kau adalah bawahannya, Haru...?”



“... Jangan katakan apapun, karena itu bisa jadi kemungkinan.”



Jika kau mempertimbangkan kelakuannya, kepribadiannya yang ceroboh membuatmu berpikir bahwa itu bukan tidak mungkin.



“Hey, Kyouko.”



“Ada apa?”



“Tentang tugas penjinak monster, apa ada asuransi program kesejahteraan?”



“Kau tidak tahu tentang itu?!”



“Setidaknya lembur... kuharap mereka membayar kerja lembur.”



“Dan ketika cari kerjamu sudah mencapai jalan buntu, sekarang universitas?!”



“... Hah?”



Aku selalu murung ketika memikirkan masa depan. Kira-kira, posisi sosial seperti apa yang dimiliki penjinak monster, ya? Apa aku harus mengambil pinjaman?





Aku memikirkan hal-hal seperti ini akhir-akhir ini. Karena aku tidak tahu rinciannya, aku mencari pekerjaan sambilan, meski akan sulit, aku harus berubah.



“Hey. Apa kau punya rencana hari ini?”



“...? Tidak juga.”



“Kalau begitu, kau mau menemaniku ke restoran keluarga? Aku ingin makan yoghurt dan es krim stroberi di Royal Host.”



“Eeerm. Itu sedikit....”



Jangan biang.... Dia mengkhawatirkanku?



“... Kubilang begitu, tapi jangan salah artikan maksudku, ok? Ini bukan gara-gara kau terlihat murung.... Aku memutuskan untuk mendengarkanmu atau semacamnya, jadi jangan pikir begitu!”



“... Begitu. Terima kasih.”



Sekali ia menyuarakan maksud aslinya, Kyouko mengalihkan pandangannya dengan “pui.”



[Pui : Sound Effect memalingkan wajah atau mengejek seseorang.]





“Be-begitulah, jadi kenapa kau berterima kasih, Haru?! Seperti yang kubilang, aku hanya ingin makan yoghurt dan sundae stroberi di Royal Host!”



Sepertinya pemilihan waktunya akan membuatnya menggigit lidahnya sendiri jika dilanjutkan.



“....”



Bodoh sekali. Datangnya hari dimana Kyouko memerhatikan kekhawatiran orang lain.... Aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Dia benar. Kenapa aku jadi negatif begini?



Tentang program kesejahteraan.... Tentang mengambil pinjaman.... Mau tak mau aku memikirkan hal-hal ini. Pilihan itu dibuat olehku seorang.... Begitulah adanya.



Matahari bulan Juli bersinar menerangi aspal. Aku berjalan di belakang teman masa kecilku yang terlihat lebih bisa diandalkan dari kapanpun.



Facebook Twitter Google+